FikryFatullah.com

Bismillah…

Kali ini kita akan membahas 2 pertanyaan mengenai Facebook:

  • Sudah beriklan via Facebook melalui boost post, kenapa dampaknya tidak bagus?
  • Berapa kali sebaiknya kita beriklan dalam sebulan?

Apakah Anda sering juga menggunakan boost post dalam beriklan di Facebook? Atau malah belum pernah beriklan di Facebook karena bingung juga mau menggunakan yang mana?

Untuk detailnya dengarkan episode kali ini.



Download this episode (right click and save)





Ada pertanyaan atau ingin berdiskusi? Bergabung ke group Facebook Kajian Bisnis Online Disini >> http://Komunitas.KajianBisnis.Online
Bismillah…

Dalam episode kali ini kita akan membahas:

  • Bagaimana berbisnis online kalau kita hanya menggunakan HP Android dan tanpa Laptop/ desktop?
  • Apa saja aplikasi yang biasa saya gunakan menjalankan bisnis online menggunakan Android.
  • Dan bagaimana mendatangkan pembeli modal HP Android doank.

Anda memiliki pertanyaan yang ingin saya jawab seperti ini? Kirimkan pertanyaan Anda ke fikry@kajianbisnis.online.





Download this episode (right click and save)

Ada pertanyaan atau ingin berdiskusi? Bergabung ke group Facebook Kajian Bisnis Online Disini >> http://Komunitas.KajianBisnis.Online

Bismillah…

Setelah minggu lalu tulisan ini Tentang Menjadi Pengusaha VS Karyawan beberapa waktu yang lalu mendapatkan banyak sekali pembaca dan dibagikan ratusan orang di Facebook dan Twitter, saya menjadi mendapatkan banyak pertanyaan, dan pertanyaan yang paling umum saya dapatkan adalah:

Bagaimana dengan orang yang bekerja (masih menjadi karyawan) namun berbisnis online?

Berarti bisa toh? Kan bisnis online bisa dari mana saja, jadi bisa di eksekusi darimana saja termasuk dari kantor tempat kita bekerja sekarang kan?

Dan pertanyaan lain yang sejenis.

Ok, jawaban singkatnya: bisa.

Jawaban panjangnya:


Untuk saya, bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan, seperti kata Robert Kiyosaki, adalah sebuah kampus atau tempat belajar untuk nantinya mengembangkan bisnis kita sendiri.

Banyak sekali pengusaha yang saya kenal (termasuk guru saya) dulunya adalah karyawan di perusahaan-perusahaan besar, sebelum akhirnya mengundurkan diri dan memulai bisnis. Jadi mereka menganggapnya seperti kuliah bisnis yang digaji.

Namun kondisi saat ini memang udah berubah. Anda bisa belajar bisnis dari YouTube, forum-forum, group Facebook, dan artikel-artikel blog yang sebagian besar bisa Anda akses secara gratis. Saya tidak menjamin semuanya bagus, tentu saja, namun jika dibandingkan dengan cerita-cerita pebisnis yang lebih senior, mereka dulu belajar bisnis jika tidak dengan berkumpul dengan pebisnis lain, melalui buku, dan jika ingin praktek pilihannya adalah bekerja.

Teknologi juga membuat multi-tasking, alias nyambi, alias mengerjakan banyak hal sekaligus menjadi kebiasaan baru. Saat ini kita terbiasa banget untuk manyak sambil Facebook-an, Ngobrol dengan 2 orang sekaligus di 2 lokasi berbeda, intinya terbiasa melakukan banyak hal secara bersamaan…

Jadi, seperti nyambi yang lain, memulai bisnis sambil bekerja di Kantor juga sangat lumrah saat ini.

Kembali ke pertanyaan awal, bisa kah ini kita lakukan?

Memang, beberapa orang yang saya kenal memulai dengan cara seperti ini hingga penghasilan dari bisnis mereka melebihi gaji yang mereka dapatkan sebelum akhirnya resign. Kalau kata teman saya: Ia keluar setelah pemasukan dari bisnisnya sebanyak 3x gajinya perbulan.

Selain bisnis online saat ini bisa dijalankan dari mana saja, kadang hanya bermodal BBM atau LINE, belajar dan berinteraksi dengan komunitas bisnis juga saat ini jauh lebih mudah. Sehingga memang dinding pembatas Anda untuk memulai bisnis sudah semakin menipis.

Anda tidak perlu menunggu kena PHK untuk memulai bisnis, Anda bisa memulainya saat ini, namun mungkin ada beberapa hal yang harus Anda pertimbangkan.

Saya pribadi saat merekomendasikan seseorang untuk memulai bisnis biasanya selalu menegaskan beberapa peraturan, diantaranya:

  • Jangan menggunakan fasilitas kantor Anda untuk menjalankan bisnis. Artinya termasuk komputer kantor, wifi kantor, dll.
  • Jangan menjalankan bisnis Anda pada jam kerja, buat saya ini masalah prinsip, karena sebagai karyawan Anda biasanya dibayar untuk waktu Anda. Karenanya menjalankan bisnis di jam kerja untuk saya sangat nyerempet ke mencuri. Jalankan bisnis Anda saat istirahat.
  • Jangan menggunakan gaji untuk modal bisnis. Ini mungkin tidak berdasar data, tapi dari beberapa kasus yang saya temui dilapangan, sebagian pengusaha yang sukses itu tidak memulai bisnis menggunakan uang nya sendiri. Termasuk yang memulai bisnisnya sambil kerja. Gaji Anda bisa menjadi penolong untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saat bisnis Anda baru berjalan diawal dan belum menghasilkan.

Ada baiknya, Anda juga meminimalisir resiko saat memulai bisnis online seperti yang saya tulis disini:

http://www.fikryfatullah.com/2015/10/memulai-bisnis-online.html

Kabar baiknya lagi, bisnis online bisa di otomasi dengan aplikasi untuk menggantikan kinerja karyawan, terutama yang pekerjaannya berulang. Karenanya sangat memungkinkan untuk Anda memulai bisnis online diluar jam kerja Anda.

Ya, jam tidur Anda mungkin akan berkurang banyak, waktu bersama keluarga mungkin juga akan semakin menipis, namun jika Anda cukup lihai dalam beberapa bulan, Anda mulai merasakan dampaknya.

Untuk mempelajari bagaimana mengotomasi reseller Anda silahkan daftar di #WebinarBOM premium di:

Http://premium.kajianbisnis.online







Download this episode (right click and save)

Jadi? Mau mulai bisnis sambil kerja?

Ada pertanyaan atau ingin berdiskusi? Bergabung ke group Facebook Kajian Bisnis Online Disini >> http://Komunitas.KajianBisnis.Online
Bismillah…

Kali ini saya akan coba menjawab pertanyaan:

Berapa budget iklan yang sesuai untuk saya mas?

Ini pertanyaan dengan beribu jawaban, namun ada satu formula yang biasanya menjadi pegangan saya. Apa itu? Dengarkan dalam episode kali ini…




Download this episode (right click and save)

Artikel tambahan, Bagaimana beriklan di Facebook dengan Transfer Bank:

http://www.fikryfatullah.com/2015/09/iklan-facebook-atm-transfer-bank.html
Catatan: InsyaAllah dalam waktu dekat saya akan meluncurkan Radio Kajian Bisnis Online, dan saat ini sedang mencari sebuah flow atau sistem yang sesuai dan mengintegrasikannya satu dengan yang lain untuk kemudian prosesnya bisa saya otomasi. Jika Anda memiliki pertanyaan yang ingin saya jawab melalui salah satu episode Radio Kajian Bisnis Online seperti ini, silahkan tulis pertanyaan Anda di komentar atau di group Facebook dibawah ini.





Ada pertanyaan atau ingin berdiskusi? Bergabung ke group Facebook Kajian Bisnis Online Disini >> http://Komunitas.KajianBisnis.Online

Kali ini kita akan mencari tahu dimana saja Anda bisa menemukan Reseller untuk bisnis online Anda.

Sebenarnya menemukan reseller bisa semudah mengubah headline dalam iklan Anda. Misalnya Anda berjualan obat jerawat. Maka:

Contoh headline untuk mencari pembeli:

"Lebih cantik tanpa jerawat dalam 30 hari."

Contoh headline untuk mencari reseller:

"Bisnis kecantikan tidak akan pernah mati, bergabunglah bersama saya dan dapatkan pendapatan tambahan dengan bekerja dari rumah."

Kedua iklan diatas akan mendatangkan 2 jenis pengunjung yang sama sekali berbeda niatnya. Namun agar lebih efektif, dimana menemukan orang-orang yang siap untuk menjadi reseller Anda?

Dengarkan rekaman episode kali ini.



Catatan: Apakah sudah waktunya bisnis Anda mencari reseller? Cari tahu dengan men-download Diargram Reseller disini: http://DiagramReseller.KajianBisnis.Online



Yuk ngobrol dengan saya di Twitter.
Bismillah…

Kali ini saya akan mencoba menjawab pertanyaan:

Saya banyak download eBook, video, dan banyak beli buku mas. Tapi sampai sekarang satupun belum sempat saya pelajari. Gimana ya mas?

Ini salah satu masalah yang umum dihadapi saat ini. Terutama oleh pebisnis pemula.

Internet membuat kita berkelimpahan dengan materi pelajaran. Baik yang kita temui dengan mudah melalui Google, maupun yang berbayar dan bisa di download.

Saat ini pebisnis online juga dimanjakan dengan banyaknya ebook, webinar, dan video tutorial gratis. Begitu banyaknya sehingga akhirnya hanya mereka download saja tanpa mempelajarinya.

Terlalu banyak belajar = terlalu banyak menganalisa. Kondisi yang datang setelah terlalu banyak menganalisa biasanya disebut: Analysis Paralysis atau kelumpuhan akibat terlalu banyak menganalisa.

Artinya jika seseorang terlalu banyak menerima materi dan terlalu banyak menganalisa maka hasilnya tidak akan lebih baik dari orang yang kekurangan materi.

Jadi solusinya seperti apa?

Salah satu solusi yang saya terapkan ada di rekaman ini:



Bagaimana pendapat Anda tentang format rekaman audio seperti ini? Jika Anda menyukainya, saya akan lebih banyak lagi membuat materi dengan format audio seperti ini.

Catatan: tentu saja Anda bisa berdoa dan memohon kepada Allah, ini doanya:

http://www.fikryfatullah.com/2015/09/ilmu-yang-tidak-bermanfaat.html


Yuk ngobrol dengan saya di Twitter.


Bismillah...

Beberapa waktu yang lalu saya menerima email yang intinya menanyakan:

"Apakah reseller itu penting?"

Jawaban singkatnya: ya.

Jawaban panjangnya:

Reseller adalah salah satu jenis akselerator atau biasa juga disebut leverage atau daya ungkit dalam bisnis.

Leverage disini artinya menambah atau melipatgandakan hasil didalam bisnis Anda tanpa menambah usaha/ effort Anda dari sebelumnya.

Jika Anda melakukannya dengan benar, maka reseller bisa membantu menyelesaikan 3 masalah utama bisnis yang sedang membangun momentum: cashflow, saluran distribusi, dan promosi.

Dibawah ini adalah rekaman audio yang insyaAllah akan menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti:


  • Apakah reseller itu penting?
  • Kenapa harus mencari dan membina reseller?
  • Apa saja alternatif akselerator selain reseller?
  • Dan banyak lagi.


Sebagai catatan, rekaman ini saya buat saat bermacet-macetan didalam perjalanan pulang. Anda akan beberapa kali mendengar peak/ cipping (atau suara terlalu dekat ke mic sehingga menimbulkan suara pecah/ serak). Saran saya dengarkan dalam volume kecil dan perlahan-lahan besarkan suaranya.




Download disini.


Oh ya, kemarin saya juga baru saja merilis tool atau alat bantu untuk menentukan kapan waktu yang tepat untuk bisnis Anda mulai mencari dan membina reseller. Namanya Diagram Reseller.

Diagram Reseller beserta dengan video tutorialnya bisa Anda download disini:

http://DiagramReseller.KajianBisnis.Online


Yuk ngobrol dengan saya di Twitter.


Belakangan aplikasi yang sering saya buka di HP saya mungkin adalah Medium. Jika Anda tidak familiar, Medium dibuat oleh orang yang sama dengan salah satu pendiri Twitter: Ev Williams.

Bukan hanya aplikasi ini sangat nyaman digunakan dan saya jatuh cinta dengan user interface-nya, namun juga isinya yang super berbobot.

Entah bagaimana Ev melakukannya, pengguna Medium ini sepertinya terpacu untuk menuangkan ide-ide terbaik mereka, kadang tulisannya panjang-panjang banget hingga bisa jadi satu bab didalam buku.

Kebanyakan isinya adalah opini atau pengalaman penulisnya. Beberapa tulisannya teknis sekali, terkadang berisi teori-teori random dari sebuah film, namun apapun wujudnya, selalu menyenangkan saat berada didalam Medium.

Namun yang ingin saya bahas disini bukan mengenai Medium-nya, namun salah satu tulisan didalamnya. Penulis artikelnya adalah Bryce Roberts, awalnya Ia mengutip hasil wawancara salah seorang desainer UI ternama: Ellen Luna.

Hasil wawancara sederhana ini ternyata menyimpan pelajaran berharga.

Ini dia…

Catatan: Disini saya akan menulis versi terjemahan Tarzan-nya, beberapa bagian juga saya buang karena mengandung Khamr (minumakn keras) namun dibawah Anda akan menemukan link ke tulisan aslinya di Medium.



Dari Interview Ellen Luna:

Saya selalu menggunakan Uber (aplikasi) di San Fransisco, walaupun saya membenci desainnya. Lalu kemudian saya pergi ke Penganugerahan Piala Crunchies dan dalam acara selesai penganugerahan saya melihat CEO Uber, Travis Kalanick. Saya lalu mendatanginya dan berkata, “Saya menggunakan Uber setiap hari dan sangat membenci aplikasinya. Menurut saya kamu harus membawa saya kesana untuk memperbaikinya.” Ia (Travis) lalu menjawab, “Oh, ya? Apa tiga hal yang akan kamu perbaiki disana?” Saya menjawab, “Saya akan mengubah logonya, mengubah seluruh aplikasinya, dan mengubah sistem rating-nya.” Lalu kemudian Ia menjawab. “Datang ke kantor Uber jam 9 pagi hari senin.” Saya mengatakan saya tidak bisa mengerjakannya sendirian dan Ia mengatakan ia akan mengumpulkan tim untuk saya.

Saya pikir penawarannya palsu, tapi saya pergi juga ke kantor Uber hari senin jam 9 pagi, tertawa sendiri, dan Travis membawa saya ke ruangan desain dengan dua orang desainer–mereka dari luar perusahaan Uber dan Ia mendatangkan mereka dari New York! Kami lalu mengerjakan aplikasi Uber dan mendesain ulang dalam waktu tiga minggu. Bahkan, salah seorang desainer yang Ia datangkan dari New York, Shalim Amin, akhirnya bekerja penuh waktu di Uber. Aplikasi ini cantik sekali dan kemarin malam memenangkan penghargaan: Fast Company 2013 Innovation By Design untuk kategori transportasi, mengalahkan robot penjelajah planet Mars dan Tesla.




Kebanyakan orang ingin untuk menjadi bugar, kebanyakan orang tidak.

Kebanyakan orang ingin membangun bisnis yang sukses, kebanyakan orang tidak akan mencapainya.

Kebanyakan orang ingin menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri, kebanyakan orang tidak.

Kebanyakan orang memiliki mimpi untuk dipenuhi, kebanyakan orang tidak akan memenuhinya.

Semua orang ingin berhenti dari sesuatu, membangun sesuatu, menjadi sesuatu, melakukan sesuatu. Kebanyakan orang tidak akan mendapatkannya.

Berapa banyak hal yang kita inginkan? Berapa banyak kesempatan yang kita dambakan? Berapa banyak hal yang rusak (gagal) yang ingin kita perbaiki?

Dan berapa banyak dari hal-hal diatas yang kita susutkan (sesuaikan/ turunkan). Kita sembunyikan. Atau, undurkan dengan berbagai alasan.

Kita tidak sendirian.

Kebanyakan orang juga tidak akan.

Namun terkadang ada seseorang yang menempatkan dirinya diluar sana. Membuat lompatan. Menghadapi penolakan atau kegagalan atau yang lebih parah lagi. Dan muncul di sisi lainnya. Lebih baik. Berubah. Lebih Berani.

Kebanyakan orang tidak akan melakukannya. Yang berarti orang-orang yang akhirnya melakukannya yang akan mengubah segalanya.



Baca cerita diatas beberapa kali.

Anda akan melakukan apa yang Ellen lakukan ke Travis?

Mungkin tidak.

Kebanyakan orang juga tidak akan. Teman Anda banyak.

Hal ini terjadi dimana-mana, saya beberapa kali menemui orang yang untuk bermimpi saja Ia takut. Menuliskan target saja hatinya berat. Karenanya lalu memilih untuk tidak punya mimpi yang besar, agar bisa seperti kebanyakan orang.

Akhirnya mengubur niatnya untuk berbisnis

Kemungkinan besar, Kita akan membuat kesalahan, ditolak, dan gagal. Apapun yang kita lakukan.

Namun sedikit sekali yang akhirnya berani dan melangkah walaupun dia tahu jalan didepannya menakutkan.



Tulisan asli:





Yuk ngobrol dengan saya di Twitter.


Bismillah...

Ada tulisan bagus dari guru saya yang mungkin harus Anda baca. Judulnya Jebakan Pembina.

Ringkasan tulisannya kira-kira seperti ini:

Seorang mentor berkata “Orgasmeku itu di depan panggung, saat berbagi dengan orang lain”

Berdiri di depan panggung, berbicara di depan ratusan hingga ribuan orang mungkin bagi sebagian orang adalah impian. Saya pun pernah masuk dalam ‘jebakan’ itu.

Awalnya memang beneran untuk berbagi, lama kelamaan jadi kecanduan. Kemudian bisnis mulai ditinggalkan, alasannya sudah ‘auto pilot’. Padahal bisnis masih seumur jagung dan budaya perusahaan belum terbentuk dengan kokoh.

“Sudah ada SOP koq..” >> SOP hanyalah bagian kecil dari SISTEM. Yang terpenting adalah orang-orang yang mau bekerja dengan harmonis dalam aturan-aturan (SOP) tersebut, tertulis atau tidak tertulis..!!!

Penyakit tinggi hati pun mulai menggerogoti, hingga merasa diri adalah orang sukses yang tak boleh ‘tampak’ gagal. Karena sering ditinggal tanpa kontrol, bisnis mulai menurun, padahal bisnis binaan tambah menaik.

Sejenak saya teringat pesan guru saya, “Janganlah kamu sibuk membina orang lain, sedangkan dirimu sendiri binasa..”

Astaghfirullaah.. baru tersadar, bahwa habitat pengusaha itu bukan di panggung, tapi di tempat bisnis. Berbeda dengan motivator yang selalu teriak “Luar Biasaaa..!”, kita mah “Biasa Diluaaar..!”

Pengusaha itu wajar jika bangkrut, karena punya bisnis. Jadi jangan malu dan tak perlu ditutupi jika sedang bangkrut. Justru bangkrut adalah pengalaman berharga yang harus dibagikan, agar calon pengusaha tak hanya tahu enaknya saja, tapi juga siap dengan pahitnya.

Sekali lagi…

“Janganlah kamu sibuk membina orang lain, sedangkan dirimu sendiri binasa..”



Tulisan yang sangat powerfull menurut saya. Namun menurut saya ada yang lebih berbahaya: jebakan membina reseller.

Jika jebakan pembina kita membina bisnis orang lain, maka jebakan reseller adalah kita membina orang lain yang berada didalam bisnis kita sendiri. Jadi seolah-olah kita sedang mengembangkan bisnis kita sendiri dengan membina reseller, padahal kenyataannya sama saja, kita sibuk membina orang lain untuk berkembang sehingga meninggalkan bisnis kita sendiri.

Masalah utamanya menurut saya dari tulisan diatas adalah “merasa bisnis sudah auto-pilot“.

Kejadian ini terjadi pada bisnis teman saya, sebut saja namanya Bunga (biar mirip berita kriminal).

Bunga meninggalkan bisnisnya yang (menurutnya) sudah berjalan untuk kemudian menghabiskan waktunya membina orang lain sebagai reseller untuk nantinya membantu Bunga menjualkan aksesoris wanita yang Ia jual.

Karena Bunga merasa harus membangun kedekatan emosional dengan reseller, maka Ia mulai mencari tahu bagaimana Ia bisa membantu masalah yang dihadapi Reseller dalam menjualkan produknya.

“Biar jangan dianggap cuma mau bisnis aja mas…”

Katanya…

Namun apa yang terjadi? Bunga mulai terlibat terlalu dalam secara emosional dan mulai mendengarkan curhatan-curhatan pribadi resellernya yang menarik waktu dan energinya semakin jauh dari bisnis dan semakin banyakke orang lain. Bisnis yang menurut bunga sudah auto-pilot pun mulai merasakan dampaknya dan mulai kocar-kacir.

Kejadian yang dialami Bunga diatas, juga menimpa beberapa orang teman saya yang lain yang bisnisnya mulai berkembang. Mungkin termasuk saya sendiri.

Jangan salah, membina orang lain itu hal yang mulia, namun kalau hal itu sampai mematikan bisnis Anda, itu bisa jadi malapetaka.

Kenyataannya: banyak hal yang saya jumpai dalam membina reseller (dalam kasus saya adalah affiliate) adalah hal berulang. Pertanyaan yang saya jumpai biasanya itu-itu saja. Karenanya saya mencoba membalik prosesnya, kenapa tidak reseller-nya saja yang di auto-pilot kan? Jadi dengan begitu saya bisa fokus menjalankan bisnis saya sendiri saat resellernya saya rekrut dan bina secara auto-pilot.

Kalaupun saya harus berhubungan langsung dengan reseller secara manual, tentunya tidak menghabiskan waktu yang banyak karena hanya menjawab pertanyaan yang mungkin tidak ada di sistem otomatis.

Mungkin Anda bertanya:

Bagaimana membinanya secara otomatis?

Bagaimana membangun hubungan secara emosional kalau kita tidak bertemu langsung dengan reseller?

Bagaimana mengevaluasi kerja mereka?

Jawaban dari pertanyan-pertanyaan diatas dan banyak lagi, akan ada di

WebinarBOM Premium: Sistem Reseller Otomatis


Keterangan lengkapnya bisa Anda lihat di >> http://premium.kajianbisnis.online

Saya ulangi kata-kata guru saya diatas:

“Janganlah kamu sibuk membina orang lain, sedangkan dirimu sendiri binasa..”

Waktu Anda sangat berharga, hati-hati menggunakannya untuk orang lain. Anda berhak memilih untuk membagikannya ke siapa yang Anda mau.

Sampai ketemu saat #WebinarBOM berlangsung…


Tulisan aslinya bisa Anda baca disini >> https://www.facebook.com/groups/ForumJayaSetiabudi/permalink/923717844391587/

Yuk ngobrol dengan saya di Twitter.


Bismillah…

Ada banyak sekali masalah saat Anda memulai bisnis online, namun hanya satu masalah yang paling fatal: tidak bisa mendapatkan pembeli.

Menurut saya pribadi, bisnis online bisa Anda mulai dengan resiko yang sangat minim bahkan, memetik kata-kata noah Kagan: mendekati nol. Artinya hampir tidak ada resiko sama sekali saat memulai.

Perkembangan teknologi menghadirkan aliran keyakinan (ini bener ga bahasanya?) baru di dunia entrepreneurship, yaitu Risk-averse entrepreneurs, atau pebisnis yang menghindari resiko.

Kenapa? Karena resiko terbesar memulai bisnis, seperti yang saya tuliskan diatas, adalah menjual produk dimana tidak ada yang menginginkannya dan mau membelinya. Karena tidak adanya pembeli, bisnis tersebut tidak memiliki cashflow yang bagus dan akhirnya mati.

Nah, teknologi saat ini memungkinkan kita memprediksi laris atau tidaknya sebuah penawaran, hingga mendapatkan pembeli walaupun produknya belum ada. Hal inilah yang, jika kita manfaatkan dengan tepat, bisa menekan resiko kegagalan di awal bisnis.

Sebenarnya ini bukan hal baru, pebisnis atau entrepreneur ternyata bukanlah pengambil resiko (atau nekat) seperti yang banyak orang duga. Sebuah studi di Inggris bahwa 52% itu bukan pengambil resiko, mereka cendrung menghindarinya.

Studi lengkapnya ada disini >> http://www.inc.com/kathleen-kim/entrepreneurs-more-cautious-not-risk-takers.html

Namun, artikel ini saya tulis bukan artinya bisnis tidak beresiko. Bisnis pasti beresiko, bahkan tidak berbisnis pun ada resikonya.

Intinya berbisnis adalah keberanian. Namun menurut saya berani dengan nekat adalah 2 hal berbeda. Setelah Anda kalkulasi semua hal berikut ini pun Anda masih harus melakukan percobaan untuk mengetahui apakah penawaran produk Anda akan berhasil atau tidak. Dan butuh keberanian ekstra untuk memulai dan mencoba apakah penawaran Anda akan berhasil. Berani mencoba dan tekun inilah yang menurut saya banyak menjadi kunci sukses pebisnis online.

Berbeda dengan nekat. Menurut saya nenjadi reseller seuatu produk hanya karena kita menyukai produknya itu nekat. Terjun ke bisnis tanpa skill menjual online dan tidak menguasai medan perang seperti aplikasi yang digunakan, layanan dashboard iklan, sumber traffic, dll juga nekat.

Skill menurut saya adalah pembeda orang yang mengelola resiko dengan orang yang menghadapi resiko didalam bisnis online. Namun di lapangan banyak saya temui orang-orang yang tidak mempelajari skill berbisnis online kemudian gagal lalu mengatakan: “Bisnis online itu ga bener”, atau “Menghasilkan uang di internet itu banyak nipunya” atau “workshop si anu itu ga jelas”, atau menjadi rendah diri, seperti: “Aku ga bakat bisnis mas”, dll.

Untuk (maaf) membersihkan wc di mall saja Anda akan mendapatkan pelatihan dari perusahaan yang mempekerjakan Anda untuk mengasah skill (bagaimana cara membersihkan) dan menanamkan attitude yang tepat (bagaimana berinteraksi dengan pengguna kamar mandi). Namun kenapa saat akan memulai bisnis online jarang sekali pebisnis pemula membekali diri mereka sendiri dengan skill dan attitude yang tepat? Padahal menurut saya menjalankan bisnis online lebih kompleks daripada membersihkan wc.

8 Cara Meminimalisir Resiko Saat Akan Memulai Bisnis Online


Jadi bagaimana Anda bisa meminimalisir bisnis online, berikut ini beberapa hal yang bisa Anda lakukan:



Lihat data yang ada sekarang untuk mengetahui potensi pasar.


Internet saat ini menyimpan data lebih banyak dari yang Anda butuhkan, dan data-data itu terkadang tersedia untuk Anda pelajari. Beberapa layanan yang bisa Anda gunakan adalah:

  • Google Trends - Untuk melihat trend yang sedang hangat di masyarakat dan memprediksi permintaan pasar.
  • Keyword Planner - Untuk mendapatkan gambaran permintaan pasar dan persaingan dari sebuah kata kunci. Anda bisa menggunakan kata kunci produk Anda disini.



Tes pasar dengan menjual MVP menggunakan iklan.


MVP atau Minimum Viable Product adalah satuan terkecil yang bisa Anda jual dari produk Anda. Hal ini cocok untuk menekan biaya produksi di awal agar Anda tidak rugi saat ternyata produk itu tidak laku. Ketika akhirnya laku Anda sudah memiliki model produk nya untuk nantinya bisa Anda produksi massal.

Anda kemudian tinggal mengiklankan produk MVP itu untuk mendapatkan feedback atau masukan dari konsumen. Untuk lebih jelas mengenai MVP, silahkan tonton video dibawah ini. Durasinya lebih dari 1 jam dan saya yakin akan memunculkan ide-ide liar di kepala Anda untuk langsung beriklan dan tes pasar.



Buat landing page


Landing page adalah SPG nya dunia online marketing. Semakin seksi dan bahenol landing page Anda, semakin ia akan menarik orang untuk mempelajari penawaran Anda.

Dropbox menurut saya adalah contoh perusahaan yang sangat berhasil menggunakan metode ini. Mereka membuat landing page yang berisi video penjelasan produk dan formulir untuk menuliskan alamat email jika ternyata pengunjungnya tertarik untuk mencoba.

Menariknya adalah, saat itu produknya belum ada, jadi Dropbox masih berupa ide dan mockup (model). Ribuan email terkumpul di hari pertama landing page itu tayang dan Dropbox pun lahir.

Berapa lama membuat Dropbox? Mungkin berbulan-bulan. Berapa lama membuat landing page? Mungkin 15 menit. Dan Anda bisa langsung tau apakah orang lain tertarik atau tidak dengan penawaran Anda di landing page itu sebelum produk Anda jadi.

Landing page legendaris itu masih bisa Anda lihat disini >> https://dl.dropboxusercontent.com/u/27532820/original_screencast.html

Bangun audiens terlebih dahulu


Saat ini Anda bisa dengan mudah membangun audiens, menarik follower di Twitter dan Facebook. Semuanya gratis. Jadi jikapun Anda belum punya produk atau ide bisnis, Anda selalu bisa membangun audiens yang akan tertarik dengan bisnis Anda nantinya.

Karenanya saat ini banyak Anda temui orang-orang yang memiliki banyak follower di Instagram kemudian berjualan atau meng-endrose jualan orang lain untuk kemudian menjadikan popularitasnya sebagai bisnis.

Kalau pembelinya sudah Anda, maka produknya bisa Anda cari darimana saja, lebih baik lagi, bisa Anda buat sesuai keinginan audiens Anda.

Crowdfunding


Jika Anda punya ide liar, dan ingin tau apakah orang akan membayar untuk ide liar Anda tersebut, maka crowdfunding adalah solusinya.

Crowdfunding intinya adalah penggalangan dana untuk mewujudkan ide Anda. Jika dananya terkumpul maka si pemberi dana biasanya mendapatkan sesuatu (bisa juga tidak), dan layanan crowdfunding nya mengambil fee sekitar 5%.

Jika dananya tidak terkumpul sampai batas waktu yang Anda tentukan, maka semua uang yang sudah terkumpul akan dikembalikan ke pemberi dana.

Ada banyak sekali layanan crowdfunding di Indonesia, dan layanan seperti ini menurut saya cocok karena jiwa gotong royong yang tertanam di jiwa bangsa Indonesia.

Ada 2 layanan crowdfunding yang saya sarankan:

  • Wujudkan - Total dana terbesar yang pernah terkumpul untuk satu projek adalah lebih dari Rp.300juta. Wujudkan juga berperan dalam beberapa proyek besar di Indonesia seperti pembangunan kembali Masjid Tolikara.
  • Kitabisa - Total dana terbesar yang pernah terkumpul lebih dari Rp.100juta. Kitabisa juga saat ini sedang terlibat dalam bencana Asap yang melanda Riau dan beberapa daerah di Kalimantan.

Online survey


Jika ada orang bertanya ke saya:

“Mas, bagaimana saya tau produk saya akan laku?

Jawaban pertama saya biasanya:

“Udah pernah nanya ke calon pembeli?”

Survey online kini bisa Anda mulai semudah meng-update status di Facebook, yang kemudian Anda bisa mendata feedback yang Anda terima di kolom komentar.

Jika ingin lebih canggih Anda bisa menggunakan Facebook Group, atau menggunakan Google Form yang semuanya gratis.

Kuncinya disini adalah bagaimana Anda bertanya. Karena beberapa kali saya bertemu dengan konsumen yang tidak tahu apa yang mereka mau.

Reseller dengan biaya minimum


Prinsipnya mirip seperti MVP diatas. Uang adalah validasi terbaik untuk ide bisnis Anda. Jika Anda ingin menjual baju, jangan jahit dulu bajunya, tapi carilah orang yang menawarkan program reseller untuk baju yang mirip dengan yang akan Anda jual.

Perhatikan, banyak sekali pebisnis online besar dulunya adalah reseller dari produk orang lain sebelum akhirnya memproduksi sendiri setelah memiliki database pembeli yang cukup besar dan setia.

Menjadi reseller biasanya lebih mudah (dan murah) daripada memproduksi sendiri. Hal ini tentunya juga akan menekan resiko Anda saat akan memulai.

Memanfaatkan free trial


Ini sedikit tidak nyambung, namun selalu saya lakukan. Sering kali pembeda berhasil atau tidaknya bisnis online Anda adalah tools atau aplikasi yang Anda gunakan.

Aplikasi yang tepat menurut saya adalah keunggulan kompetitif yang besar. Dan banyak sekali aplikasi saat ini memberikan free trial selama 15-45 hari.

Anda bisa menggunakan layanan email marketing terbaik, membuat landing page terindah, dan bahkan beriklan ke ribuan orang, semuanya gratis jika Anda cukup getol mencari. Jika dalam 15 hari itu Anda bisa mendapatkan uang paling tidak untuk break event aplikasi saja, maka Anda akan mendapatkan momentum untuk mengembangkan bisnis Anda dengan aplikasi-aplikais canggih tersebut.



Jadi, masih mau terjun mentah-mentah memulai bisnis? Itu sebenarnya pilihan Anda. Namun saya tidak suka merasakan sakitnya kegagalan.

Yang jadi korban juga bukan hanya diri saya sendiri, namun juga keluarga saya. Sehingga saya akan berusaha meminimalisirnya sebisa mungkin.

Jikapun gagal juga ya Qodarullah… Namun Alhamdulillah semakin kesini saya semakin bisa memprediksi dan mengelolanya.

Apa cara Anda mengelola resiko?

Kita diskusi di kolom komentar ya…


Yuk ngobrol dengan saya di Twitter.


Bismillah…

Setiap bulan saya mengirim 2-4.5 juta email ke ratusan ribu kontak yang ada di YukBisnis…

Dari dulu saya selalu penasaran dengan apa yang membuat seseorang membuka dan membaca email dari saya.

Setelah beberapa kali eksperimen ternyata memang headline atau subject email lah bagian yang paling menentukan dari sebuah email.

Namun muncul pertanyaan baru:

Headline seperti apa yang emailnya paling banyak di buka?

Saya lalu eksperimen dengan berbagai jenis headline dan mengevaluasi data yang saya miliki selama beberapa bulan ke belakang saya akhirnya melihat sebuah pola.

Seperti biasa, sukses berpola gagal berpola, karenanya email yang sukses dibuka dan berhasil menjual itu pasti ada polanya.

Akhirnya dengan meniru pola tadi saya coba mengirimkan email dengan headline tersebut selama beberapa waktu, dan hasilnya?

Terjadi peningkatan orang yang membuka email sebanyak 49% rata-rata. Jika email list Anda ada 1000 orang dan yang buka email biasanya 200 artinya itu penambahan sekitar 100 orang lagi yang membuka emailnya. Bayangkan jika email list Anda 100000 orang?

Cukup lumayan, dan akhirnya formula ini jadi “formula tanpa mikir” saya. Artinya formula ini akan saya gunakan jika saya sedang tidak ada ide untuk menulis atau membuat headline iklan yang bagus.

Namun saya penasaran, bagaimana jika headline ini saya gunakan di social media seperti Facebook, Twitter, atau iklan-iklan yang lain, apa yang terjadi?

Ternyata di Facebook hasilnya cukup mirip, sedangkan Twitter tidak begitu bagus. Saya tidak tahu kenapa, insyaAllah nanti akan saya riset lagi.

Jadi, apa formulanya?

Formulanya sangat sederhana. Headline Anda harus berisi 3 komponen ini:

[Janji] + [Menghasilkan] + [Kamu]


Apa artinya?

[Janji] adalah janji yang Anda sampaikan ke target pasar, bisa juga berupa jaminan. Intinya adalah sebuah harapan membawa calon pembeli Anda ke kondisi “sesudah” dari kondisi “sebelum” yang saat ini mereka rasakan.

[Menghasilkan] Adalah hasil akhir yang akan terjadi jika calon pembeli menggunakan produk Anda. Jadi bukan produk Anda bisanya apa, tapi kalau orang lain menggunakannya dia mendapatkan apa. [Menghasilkan] ini harus berisi kata kerja (verb).

[Kamu] Headline yang langsung berbicara kepada calon pembeli dari Anda sebagai orang pertama. Jadi didalam headline ada kata-kata seperti: Anda, kamu, Ibu, Bapak.

Contoh


Jadi bagaimana penerapannya di dunia nyata? Saya akan memberikan Anda 2 contoh, yang pertama adalah di cover bukunya pak Tung Desem Waringin: Marketing Revolution, perhatikan tulisan pertama yang Anda baca:



Bagaimana meningkatkan kekayaan Anda hingga 2000% dalam waktu 6 bulan/ kurang dengan marketing.


[Janji] nya adalah: kekayaan.

[Menghasilkan] nya adalah: Meningkatkan 2000% dalam 6 bulan/ kurang.

Dan [Kamu] nya adalah: Anda.

Lihat gambar covernya disini:

enter image description here

Buku ini merupakan buku terlaris Pak Tung, dan sampai sekarang masih beredar di Gramedia walaupun covernya sudah berubah.

Contoh kedua adalah halaman depan aplikasi long tail SEO: HitTail. Begitu tiba di halaman depan website mereka: HitTail.com Anda akan membaca headline:

Guaranteed To Increase Your Organic Search Traffic


[Janji] nya adalah: guaranteed.

[Menghasilkan] nya adalah: Increase organic search traffic.

[Kamu] nya adalah: Your.

enter image description here

Anda bisa menemukan pola iklan yang sama berulang di tempat lain di Internet.

Headline ini hampir selalu berhasil buat saya, buktinya Anda membaca artikel ini kan? :D

Kini, waktunya Anda mencoba. Buat iklan Anda dengan headline dengan formula [Janji] + [Menghasilkan] + [Kamu] lalu coba iklankan ke semua saluran pemasaran Anda, boleh jadi itu Facebook, Twitter, Youtube, Blog, LINE@, BBM, atau email seperti saya. Apa saja.

Tulis di komentar artikel ini jika Anda sudah mendapatkan hasilnya.

Saya tunggu ya.



Catatan: semua yang saya bagikan kepada Anda, termasuk isi email ini sudah saya uji didalam bisnis saya sendiri. Jika Anda ingin mendapatkan teknik copywriting sederhana lain yang sama bahkan lebih menghasilkan dari teknik diatas (dan tentu saja sudah teruji juga) silahkan daftar disini >> http://ikhlas.kajianbisnis.online

Yuk ngobrol dengan saya di Twitter.


Domain dan hosting mungkin adalah pertanyaan terbesar kedua yang saya terima setelah “bagaimana membuat toko online.” Karenanya disini saya akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti:

  • Apa itu domain dan hosting?
  • Dimana belinya?
  • Apa pentingnya beli domain dan hosting? Kenapa harus beli?
  • Domain seperti apa yang harus saya beli?
  • Hosting seperti apa yang harus saya sewa?

Dan beberapa pertanyaan lain yang tidak bisa saya ingat persis tapi mudah-mudahan bisa ikut terjawab disini.

Jawaban disini tidak akan terlalu teknis, namun InsyaAllah cukup untuk Anda mengambil keputusan untuk bisnis online Anda kedepannya. Baiklah mari kita mulai *iket kepala*.



Apa itu domain dan hosting?


Pada dasarnya domain dan hosting adalah 2 hal yang sangat berbeda. Domain adalah alamat web atau URL seperti tokoonline.com. Sedangkan hosting adalah sesuai namanya, tempat Anda meng-host atau menempatkan website/ toko online Anda.

Ini harus saya tegaskan karena masih adanya beberapa orang yang menanyakan ke saya seolah-olah keduanya adalah hal yang sama.

Anda bisa membeli berbagai macam jenis domain, yang paling populer tentu saja .com, ini cocok untuk untuk website atau toko online apapun seperti blog FikryFatullah.com ini. Anda juga bisa membeli domain-domain yang memiliki karakteristik yang unik seperti Yuk.bi, atau Komunitas.KajianBisnis.Online. Namun tentu saja harganya berbeda.

Beberapa domain seperti .co.id membutuhkan beberapa dokumen-dokumen yang harus Anda lengkapi. Dan beberapa domain tidak bisa Anda gunakan seperti .gov atau .edu, kecuali Anda bekerja didalam instansi pemerintahan dan pendidikan.

Untuk domain Anda harus membayar secara tahunan. Biayanya bevariasi tergantung kebutuhan Anda.

Hosting datang dalam berbagai pilihan dan fitur. Ada yang datang dalam kapasitas 2GB, ada yang sampai unlimited alias tidak terbatas, ada yang membatasi bandwidth-nya, ada yang membatasi jumlah pengunjungnya.

Jadi, mana yang harus Anda pilih? Untuk Anda yang baru mulai sebenernya mana saja tidak masalah. Karena saran saya fokuskan 80% waktu Anda untuk mendatangkan pengunjung. Karena setelah ramai pun Anda biasanya bisa meng-upgrade hosting Anda kapan saja. Jangan terlalu pusing memikirkan hosting dan memoles tampilan toko online Anda.

Hosting ada yang akan menagih Anda tahunan dan ada yang menagih Anda secara bulanan seperti Bluehost.

Memang beberapa layanan hosting juga menjual domain sebagai paket. Karena akan merepotkan untuk Anda yang tidak terbiasa membeli hosting dan domain.

Setelah memiliki domain & hosting, barulah proses paling penting kita mulai: meletakkan website/ toko online Anda disana. Karena tujuan Anda membeli hosting adalah agar website Anda bisa di “host” disana.

Solusi paling sederhana tentunya menggunakan Content Management System (CMS) seperti Wordpress atau Joomla. Dengan CMS Anda pada dasarnya tidak memerlukan jasa developer web dan bisa mengerjakannya sendiri. Anda juga bisa mengikuti perkembangan terbaru tanpa terus bergantung kepada developer untuk meng-update toko online Anda.

Saya pernah juga bertemu dengan beberapa developer nakal yang membuat CMS sendiri lalu tidak meng-update nya atau tidak bisa menambahkan fitur baru kedalamnya. Hal ini selain bisa menghambat bisnis Anda, juga membuat Anda menjadi bergantung ke developer tersebut.

Karenanya saran saya, gunakan jasa developer web saat bisnis Anda sudah mulai berjalan dan Anda bisa mempekerjakan developer secara full time di perusahaan Anda.



Apa pentingnya domain dan hosting? Kenapa harus beli?


Pentingnya memiliki domain sendiri mungkin harus saya jabarkan dalam satu artikel sendiri karena begitu banyaknya. Salah duanya tentu saja untuk branding dan SEO.

Bayangkan saat orang nanya, toko nya apa? Produknya bisa diliat dimana? Terus Anda jawab tempatmarketplace.com/namatokoonline/nama-produk susah toh?

Tapi bayangkan saat Anda tinggal menjawab: tokosaya.com, selain lebih mudah diingat, hal ini akan meningkatkan kredibilitas Anda.

Memang bener, Anda bisa berjualan tanpa harus repot membayar domain, namun buat saya, kemelekatan merek di benak pembeli lebih mahal daripada harga domain pertahun.

Sedangkan untuk hosting carilah yang paling cepat dan aman yang Anda bisa.

Alternatifnya tentu saja, Anda bisa menggunakan layanan website builder, atau layanan yang sudah menyediakan website/ toko online yang sudah “jadi” dimana Anda tinggal mengedit dan mengubah tampilannya sesuai dengan yang Anda mau.

Dengan menggunakan website builder ini biasanya Anda tidak perlu lagi memikirkan hosting, bandwidth, dll. Dan tidak perlu juga menginstall sendiri CMS atau membuat sendiri toko online Anda. Semua sudah jadi, tinggal fokus jualan bukan fokus pemrograman.

Website siap pakai seperti ini sangat saya sarankan untuk Anda yang tidak memiliki latar belakang teknologi namun ingin memiliki website/ toko online dengan tampilan professional. Karena layanan seperti ini bisasanya sudah mengoptimasi website Anda sehingga Anda tidak perlu lagi memikirkan tentang keamanan, kecepatan, dan kestabilan toko online Anda.

Carilah website builder yang tampilannya judah mobile-friendly, artinya saat calon pembeli Anda mengakses toko online Anda melalui HP mereka, tampilannya akan menyesuaikan ke layar HP yang kecil.



Beli dimana?


Untuk toko online siap pakai, salah satu layanan yang saya rekomendasikan adalah YukBisnis PRO atau Yubi PRO (well, hello…)

Yubi PRO adalah layanan toko online professional untuk Anda yang ingin toko online dengan tampilan yang menarik, cepat, dan ingin langsung memiliki domain sendiri.

Anda tidak perlu memikirkan keamanan, kecepatan, dan optimasi toko online Anda karena tim YukBisnis sudah bekerja keras melakukannya untuk Anda. Dan harganya menurut saya merupakan yang paling murah dari semua layanan toko online siap pakai lain.

Untuk menggunakan layanan ini dan ingin berkonsultasi, silahkan ngobrol dengan tim YukBisnis melalui LINE dengan menambahkan @YukBisniscom (jangan lupa “@” nya) kedalam kontak LINE Anda, atau dengan mengklik dibawah ini:

Add Friend

Anda tinggal menyebutkan nama domain yang Anda mau dan tim YukBisnis akan membimbing Anda hingga Anda memiliki toko online Anda sendiri.

Jika Anda akhirnya memutuskan untuk membeli hosting sendiri, saya menyarankan layanan IDHostinger dibawah ini:

Klik disini untuk menyewa hosting di IDHostinger


Atau untuk yang lebih cepat, profesional dan bisa bayar bulanan, saran saya gunakan Bluehost. Salah satu layanan yang termurah dan terbaik yang saya tahu. Klik gambar dibawah untuk menyewa di Bluehost. Bisa sewa bulanan mulai dari 3 dollaran.






Semua layanan diatas sudah bisa paketan dengan domain, namun jika Anda ingin beli domainnya saja, Namecheap adalah solusi terbaik:

Klik disini untuk membeli domain di Namecheap


Namecheap.com


Saran saya, jika bisnis Anda sudah jalan, belilah domain sebanyak yang Anda bisa diseputar bisnis Anda. Adalah hal biasa satu toko online memiliki banyak domain yang mengarah ke tempat yang sama. Contohnya, Anda bisa mengakses Yubistore di Store.YukBisnis.com atau Yuk.Bi.

Yang penting ada yang datang


Jangan sibukkan diri Anda dengan hal-hal teknis sementara Anda sendiri lupa mendatangkan pembeli. Saya menyebutnya dengan dilema truk pemadam kebakaran.

Pemadam kebakaran setiap pagi membersihkan truk mereka, sampe kilat kinclong, setiap sore digosok lagi sebelum ganti shift, besok berulang lagi seperti itu..

Setelah kinclong lalu apa?

Mereka menunggu panggilan.. Baik itu (naudzubillahimindzalik) terjadi kebakaran, ataupun kalau ada kejadian lain..

Kalau tidak ada? Mereka akan menunggu lagi dengan truk kinclong tersebut.. Begitu seterusnya.. Karenanya Anda ga akan pernah ngeliat truk pemadam yg kotor.

Nunggu

Nunggu

Nunggu

Toko online yg baru dibangun banyak terkena dilema ini..

Toko onlinenya kinclong-kinclong, font-nya diperhatiin banget ukurannya, gambarnya cantik, ada video deskripsi tiap produk, dll..

Tapi kemudian mereka nunggu orang dateng. Beberapa org yg saya temui hari2nya sibuk menata toko online, bukannya mendatangkan traffic atau membangun list.

Truk pemadam kebakaran yang bersih belum tentu mematikan api lbh baik dari truk yg kotor.

Begitu juga toko online, yg cantik-cantik amat blm tentu semenjual yg bikin sakit mata.

Kaskus yang dulu tidak di desain untuk jadi toko online, tapi temen saya bisa dapet sampe puluhan juta perbulan jual aksesoris HP. Karena dia tau datengin traffic.

Pisahkan mana yg menambah kesibukan dan mana yg memberi pemasukan.



Mendatangkan pembeli pertama


Untuk mendatangkan 100 pembeli pertama ke toko online Anda, saya dan @MotivaTweet beberapa waktu yang lalu sudah mengadakan #WebinarBOM yang membahas 7 cara mendatangkannya.

Silahkan daftar dibawah ini. Gratis!


Nama Panggilan


Email *




Sudah memiliki toko online dengan domain sendiri? Share alamat Anda di komentar ya…

Yuk ngobrol dengan saya di Twitter.


Facebook hari ini merilis beberapa fitur baru terutama untuk pebisnis. Beberapa perubahan yang terjadi sifatnya desain dan teknis seperti foto profil yang bisa bergerak, dll. Untuk detailnya Anda bisa mencarinya di blog-blog yang membahas teknologi yang sangat banyak di luar sana.

Namun yang membuat saya bersemangat adalah munculnya fitur-fitur ini:

Lead Ads


Sesuai namanya, lead ads adalah iklan yang di desain untuk menangkap leads. Ini berarti Anda bisa menangkap email, nomor telepon dan data lain dari prospek yang mungkin tertarik dengan bisnis Anda untuk nantinya bisa Anda follow-up.

Untuk lebih jelasnya, silahkan lihat video-nya dengan mengklik disini.



Instagram Ads


Facebook memenuhi janjinya untuk membuka saluran iklan di Instagram melalui Facebook Ads pada tanggal 30 Oktober.

Untuk memulai dan mempelajari Instagram untuk bisnis, Anda bisa mengikuti pelatihan bersertifikatnya disini.

Di Instagram sendiri spesifikasi iklannya adalah:

Untuk Link

Dengan iklan ini, pengguna Instagram bisa meng-klik foto yang berisi iklan Anda untuk nantinya akan membawa mereka ke website atau toko online Anda, atau kemanapun Anda mau. Ini spesifikasinya:



Untuk Video

Iklan Anda akan muncul seperti layaknya video yang muncul di Instagram Anda saat ini, ini spesifikasinya:



Dan kabar gembiranya lagi, Anda bisa membayar semua iklan ini dengan rupiah alias melalui transfer bank. Klik disini untuk mengetahui caranya.

Saat ini saya juga masih eksperimen dengan iklan-iklan yang baru ini, InsyaAllah setelah ada temuan-temuan yang baru akan saya update lagi di blog ini seperti biasa.

Yuk ngobrol dengan saya di Twitter.


Sebenernya saya rada ga suka bahas apakah seseorang itu harus jadi pengusaha atau stay jadi karyawan. Saya penganut golongan yang penting halal dulu. Terserah mau jadi apa yang penting halal.

Namun beberapa tahun ini lingkungan saya penuh dengan motivator, inspirator, atau yang katanya provokator bisnis, atau apapun istilahnya.

Dan puncaknya adalah saya menulis buku BOM: Bisnis Online Milyaran dengan @MotivaTweet yang memang kerjaannya ngomporing orang untuk berbisnis dan sering menggunakan hashtag #UdahResignAja.

Motty menurut saya adalah seseorang yang sangat cerdas dan kreatif. Namun memang saya berbeda pendapat di masalah ini dengannya. Tapi saya memilih membiarkan agar melengkapi.

Jangan salah juga, seperti Motty, saya sangat menghormati motivator, inspirator, dan provokator ini selama mereka “bener”. Artinya memang banyak bukti di lapangan yang jadi pengusaha beneran karena dipicu oleh dorongan mereka.

Yang tidak saya setujui adalah membandingkan A dengan B, karyawan dengan pengusaha, bukan karena alasan Indonesia kekurangan pengusaha atau apa, tapi karena alasan yang akan kita bahas di artikel ini.

Dari dulu Saya memilih banyak diam terkait ini. Seperti yang saya katakan diatas, saya lebih concern ke halal haram daripada ke status karyawan dan pengusaha. Yang terakhir ini buat saya pilihan saja.

Menurut saya menyuruh semua orang menjadi pengusaha adalah konyol dan mengatakan: “kalau semua orang jadi pengusaha, nanti yang jadi karyawan siapa?” Adalah pembenaran yang sama menggelikannya.

Agar sepemahaman, ada baiknya saya definisikan dengan singkat beberapa hal yang akan saya bahas.



Karyawan




Menurut saya karyawan titik beratnya adalah Ia punya waktu untuk mengerjakan sesuatu yang dibutuhkan untuk menjalankan sebuah perusahaan. Kalaupun skill-nya kurang, biasanya perusahaan akan melakukan training atau pelatihan untuk karyawannya secara berkala. Yang penting waktunya ada. Kalau lembur, perusahaan akan membayar kelebihan waktunya.



Self-employed




Selain karyawan dan pengusaha, tentunya ada orang-orang yang ditengah. Self-employed adalah orang yang dibayar untuk skill yang Ia miliki. Contoh: designer dibayar untuk mendesain. Konsultan dibayar untuk sesi konsultasi, dll. Walaupun beberapa konsultan yang saya kenal dibayar berdasarkan waktunya (per jam), namun yang membuat waktunya berharga adalah skill dan pengalaman yang Ia miliki.



Pengusaha




Pengusaha adalah orang yang meng-orkestrasi waktu, skill, dan uang orang lain dan mengelola resiko dalam menjalankan ketiganya untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai bagi masyarakat.

Catatan: Ketiga definisi diatas ini hanya hasil temuan saya di lapangan aja, kalau Anda ingin definisi yang bener silahkan mengacu kepada literatur yang bener. Saya menulis diatas untuk menyampaikan point-point yang lebih penting yang ada dibawah ini.

Nah, kenapa saya tidak begitu mempermasalahkan tentang karyawan, pengusaha, ataupun freelance?

Jawaban saya: karena Internet akan membuat kabur ketiga golongan diatas.

Anda ingin jadi pengusaha agar bebas mengatur waktu Anda? Sekarang jadi karyawan juga bisa bekerja dari rumah atau dari mana saja.

Saya pernah menulis mengenai kerja darimana saja, ditengah banjir, dan meyelesaikan buku BOM tanpa bertatap muka.

Klik disini untuk membaca cerita tentang bekerja ditengah banjir Jakarta.

Klik disini untuk membaca tentang bekerja dari rumah atau dari mana saja.

Anda memiliki skill dan ingin jadi duit? Anda bisa dapet client dari seluruh dunia saat ini tanpa harus berurusan dengan birokrasi perusahaan client.

Anda seorang pengusaha? Kini Anda bisa mempekerjakan bakat-bakat terbaik dengan skill yang mumpuni di kota manapun, tanpa harus ketemuan. Bahkan beberapa orang guru saya bisnisnya berjalan tanpa karyawan, namun lebih banyak menggunakan tools atau aplikasi online.

Saat profesi Anda sangat menitikberatkan pada penggunaan internet, maka ketiga hal diatas bisa jadi tidak relevan lagi.

Saya ambil contoh.



Sekitar tahun 2012 yang lalu saat saya baru tiba di Bandung, saya langsung mencari komunitas-komunitas pebisnis online di Bandung. Setelah mengikuti beberapa acara kopdar dan gathering, saya berkenalan dengan seorang Ibu muda, namanya Dian.

Dian hampir 8 tahun berkarir di dunia jurnalistik dan penulisan, pernah bekerja di beberapa koran dan majalah di Jakarta sebelum akhirnya pindah ke Bandung karena ikut suami. Saat itu perusahaan tempatnya bekerja tidak rela Ia keluar dan mengizinkannya untuk bekerja dari Bandung secara remote.

Ibu satu anak ini akhirnya memutuskan berhenti bekerja karena anak gadisnya saat itu memiliki penyakit dan harus bolak balik ke rumah sakit (Alhamdulillah saat ketemuan sudah sembuh).

Setelah sang anak mulai sehat, Rasa ingin menulis Dian muncul lagi. Ia lalu melanjutkan blog-nya yang hampir mati, lalu mulai menjadi kontributor di berbagai website berita melalui kenalannya yang cukup banyak di media.

Dian lalu mulai serius menjadi freelancer untuk menulis konten baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Ia kebanjiran job sampai menolak beberapa tawaran ghost writing yang cukup potensial saat itu.

Sampai suatu ketika ia menerima email yang menawarkan Dian untuk menjadi kontributor sebuah blog tentang parenting yang cukup besar dari Amerika.

Perasaan tidak enak mulai menyelimuti hatinya karena Ia mulai merasa terlalu sering menolak Job, dan penawaran menjadi blogger full time ini adalah rekomendasi teman dekatnya yang sekarang berada di Amerika. Belum lagi saat memberikan job penulisan ke orang lain, hasilnya beberapa kali tidak memuaskan client.

Akhirnya ia menerima pekerjaan itu, selain Ia menyukai dunia parenting, namun juga gaji yang ditawarkan blog itu cukup besar: 5000an US$ perbulannya. Untuk Dian , itu angka yang besar sekali dan bisa banyak membantu keluarganya.

Namun ia tidak meninggalkan pekerjaan freelance menulisnya yang lama, akhirnya sambil menjadi blogger professional, Ia membangun tim yang terdiri dari freelancer yang berada di 3 negara untuk menjalankan job-job yang masih terus berdatangan diluar pekerjaan utamanya. Di titik ini, Dian jadi karyawan dan jadi pengusaha pada saat bersamaan.

Setelah setahun, Ia memutuskan untuk berhenti menjadi blogger full-time dan terjun menjadi pebisnis online full-time dengan membeli sebuah blog yang cukup besar yang bertema anak dan bayi. Saat ini Dian sudah memiliki dan mengelola beberapa blog berbahasa Inggris, dengan tim berjumlah 4 orang (tidak termasuk Dian) yang berbasis di Indonesia, Singapura, dan India. Dari 4 orang tersebut hanya 1 orang di Indonesia yang Ia gaji bulanan, sisanya freelance.

Pendapatannya saat ini sudah 3 kali jumlah pendapatan suaminya yang berasal dari Iklan, affiliate, dan sponsor, dan penawaran joint venture. Dan kabar gembiranya lagi, semua Dian lakukan tanpa harus keluar rumah dan meninggalkan anak gadis kesayangannya.





Apa yang terjadi disini?


Saat Dian jadi karyawan, Ia bisa bekerja dari Bandung sambil ikut suaminya, waktunya bebas, saat Ia jadi Freelance ia bisa membantu client darimana saja, saat Ia memiliki bisnis, Ia bisa menjalankannya tanpa karyawan yang tetap yang bisa bekerja dimanapun, tanpa kantor.

Artinya, 2-3 tahun belakangan dalam hidup Dian habis untuk bekerja secara remote, atau jarak jauh. Statusnya saja yang berubah dari karyawan, ke freelance, ke business owner.

Seperti yang saya katakan diatas, status karyawan dan pengusaha sudah blur, dan kedepannya menurut saya akan semakin tidak penting lagi. Teknologi cepat atau lambat akan mengubah cara kita bekerja (dan mempekerjakan).

Kedepannya, karyawan akan semakin bebas memilih mau bekerja jam berapa, dan darimanapun mereka mau, selama pekerjaannya selesai. Kelebihannya tentu banyak:

  • Karyawan bisa lebih bahagia.
  • Tidak harus macet-macetan ke kantor.
  • Bisa memiliki hidup yang lebih berkualitas bersama keluarga dan teman-teman.
  • Dll.

Saat ini sudah beberapa bulan saya mempraktekkannya di YukBisnis dan masih terus mempelajari cara-cara terbaik me-manage orang-orang yang bekerja secara remote.

Saya pernah mengatakannya dan saya akan terus mengatakannya:

Bekerja secara remote tidak bisa untuk semua orang dan semua profesi…

Namun bukan berarti juga semua orang harus bekerja di kantor pada jam yang sama dan pulang pada saat yang sama…

Buat saya sama saja seperti tidak semua orang bisa menjadi sopir Uber karena tidak punya mobil (atau tidak bisa nyetir). Tentu saja pekerjaan seperti teknisi, tukang bersih-bersih, engineer, tidak bisa bekerja secara remote.

Namun saya yakin sebagian besar karyawan di perusahaan manapun, terutama bagian administrasi dan keuangan, bisa bekerja dari rumah mereka.

Saat saya melempar ide ini di Facebook, beberapa orang mengatakan ini berbahaya, karyawan tidak bisa di manage, nanti mencuri waktu, biaya untuk switching dari lingkungan kerja sekarang, ke lingkungan kerja remote itu besar, dll.

Menurut saya, sama bahayanya dengan membiarkan kondisi sekarang kalau dipaksakan tidak remote, karyawan habis duit dan waktunya kejebak macet, polusi atau jejak karbon yang ditinggalkan sangat besar, anak-anak bertahun-tahun sulit bertemu orang tuanya, penggunaan listrik dan sumberdaya lain di kantor besar, dll.

Untuk masalah mengontrol karyawan saya memetik kata-katanya Peter Drucker:

“What gets measured, gets managed.”

Atau terjemahan tarzan-nya: apa yang bisa di ukur akan bisa di atur. Menurut saya yang takut karyawannya mencuri waktu itu sebagian besar karena tidak mengetahui bagaimana mengukur kinerja karyawannya. Sehingga tidak tahu mengaturnya harus seperti apa.

Di sisi lain, bagi pemilik bisnis, bisa mempekerjakan orang lain secara remote artinya juga bisa mendapatkan bakat-bakat terbaik di seluruh Indonesia (atau dunia), tanpa harus menyuruh mereka datang ke lokasi bisnis kita yang mungkin lokasinya jauh.



Sudut Pandang Baru


Menurut saya, daripada memilih mau jadi karyawan, freelancer ataupun pebisnis, intinya adalah tujuan kita dulu mau apa.

Bisnis menurut saya hanya kendaraan. Karenanya kalaupun bisnis saya bangkrut (na’udzubillah) saya tetap tidak akan mengubah tujuan saya, tapi saya akan mencari kendaraan baru.

Contohnya, dulu teman SMA saya Arief ingin sekali keliling dunia, karenanya dia ingin jadi pengusaha agar bisa meninggalkan bisnisnya keliling dunia. Saya tanya: kenapa harus punya bisnis dulu baru keliling dunia? Itu ada pertukaran pelajar (sambil saya tunjuk poster yang menempel di dinding sekolah).

Akhirnya benar, ia mengambil kesempatan pertukaran pelajar dan tiba di Korea Selatan beberapa bulan kemudian. Setelah lulus SMA, mindset Arief sudah berubah, Ia ingin keliling dunia, untuk urusan pendapatan sehari-hari, Ia tidak begitu perduli bagaimana caranya selama halal.

Akhirnya Arief menjadi Volunteer di kedutaan besar Indonesia, dan saat ini sudah mengunjungi 17 negara. Dari foto-foto Instagram-nya saya bisa menilai kalau tujuan Arief di masa SMA nya dulu sudah tercapai.



Bangkitnya Pebisnis Model Baru




Internet dan perkembangan teknologi pun mulai melahirkan “peranakan” baru di dunia entrepreneur. Yaitu Solopreneur. Artinya orang-orang yang memulai dan menjalankan bisnisnya sendirian.

Tim marketing dan sales berganti dashboard layanan advertising.

Komisi dan bonus penjualan berganti menjadi komisi affiliate marketing.

Karyawan berubah menjadi tin freelancer yang tersebar di seluruh dunia dan di bayar per projek. Hemat.

Entrepreneur yang dulu erat kaitannya dengan leadership yang tinggi, bisa memotivasi tim, dll, perlahan-lahan berubah menjadi pengusaha yang lihai membaca data dan menggunakan aplikasi-aplikasi canggih, serta piawai berkomunikasi dan negosiasi via layanan messenger seperti Skype.

Ini sedang terjadi dimana-mana bahkan di Indonesia, guru saya menghasilkan jutaan dolar per tahun dengan 2 orang tim freelance dan beberapa aplikasi online.

Semakin besar perusahaan Anda, pekerja remote Anda juga bisa ikut membesar. Anda ingin karyawan tetap namun remote? Bisa juga.

Klik disini untuk mengetahui bagaimana Automattic (perusahaan yang membuat Wordpress) bekerja dengan 190 karyawan tersebar di 141 kota lebih.

Apa tujuan Anda?


Seperti yang saya katakan diatas, pada akhirnya, apapun profesi Anda, semua kembali ke satu hal: tujuan Anda menjalankannya.

Bisa saja ingin meng-Haji kan orang tua, punya mobil sport, punya rumah, menikah, menyekolahkan anak ke luar negri. Apa saja, yang penting Anda punya goal yang jelas.

Saya sendiri memiliki ambisi pribadi yang belum tercapai sampai saat ini. Namun apakah bisnis saya saat ini yang akan membawa saya kesana? Mungkin, saya tidak tahu.

Yang jelas saya akan memilih kendaraan (bisnis) yang tidak menghalangi saya beribadah, bisa dekat dengan keluarga, dan bisa saya kerjakan di waktu yang saya inginkan.

Saat ini di Facebook saya sudah banyak sekali teman-teman saya membuka lowongan yang tidak memperdulikan latar belakang pendidikan karyawannya. Selama pekerjaannya selesai sesuai jadwal, karyawan tersebut bisa bekerja dari mana saja, kapan saja. Dan kedepannya saya yakin ini akan semakin menjadi trend.

Guru saya, Mas Jaya Setiabudi pernah berkata kepada saya:

“Selama kamu punya skill, jaringan, dan nama baik, kamu akan bisa hidup dimana aja…”

Saya sangat setuju. Bukan status atau latar belakang pendidikan Anda yang dibutuhkan oleh dunia, tapi siapa Anda dan Anda bisa apa?



Tantangan Baru


Tentu saja teknologi tidak hanya menghadirkan kemudahan-kemudahan namun juga tantangan-tantangan baru. Tentu saja menjadi karyawan, freelance, dan business owner tantangannya berbeda-beda walaupun batasannya sudah dikaburkan oleh teknologi.

Sebagai karyawan Anda tetap akan diberikan target oleh perusahaan Anda yang harus Anda penuhi, Kerja overtime semakin tidak bisa dibedakan, dan tantangan-tantangan lainnya.

Sebagai freelance Anda semakin mudah untuk digantikan oleh freelance lain, karenanya kemampuan Anda mengelola client sangat dituntut untuk memberikan yang terbaik.

Sebagai pengusaha, teknologi berkembang cepat, Anda tidak bisa lagi hanya mempercayakan tim dan menutup mata dengan hal-hal teknis, Anda harus sangat peka dengan apa yang terjadi.

Dulu adalah hal biasa pemilik rumah makan tidak bisa masak. Pengusaha pakaian tidak bisa menjahit. Namun, jika kita perhatikan perusahaan-perusahaan terbesar di dunia saat ini CEO nya merupakan orang-orang yang sangat memahami produk yang mereka jual, dan bahkan membuatnya sendiri.

Lihat saja Larry Page dan Mark Zuckerberg keduanya merupakan programmer yang handal.

Semakin Banyak Pilihan


Cara-cara lama akan selalu ada. Akan ada orang yang terus nyaman bermacet-macetan ke kantor, Akan ada pengusaha makanan yang tidak tahu masak, pengusaha pakaian yang tidak tahu menjahit.

Namun sekarang pilihannya sudah bertambah, Anda tidak perlu mengikuti cara-cara lama, kalaupun mau ya terserah, itu pilihan.

Maaf tulisan ini jadi sangat panjang…

Masih mau perduli apa kata orang tentang menjadi pengusaha vs jadi karyawan?

Saya tinggalkan Anda dengan video cara perusahaan yang bernama Basecamp (dulu 37 Signals) bekerja secara remote.



Yuk ngobrol dengan saya di Twitter.
Beberapa waktu yang lalu saat di Depok, saya sempat bersilaturahim dengan teman lama saya yang saat ini menjadi seorang trainer SDM di beberapa perusahaan besar di Indonesia.

Saya perhatikan dalam beberapa tahun, namanya semakin dikenal dan job untuk training nya makin banyak, namun ia masih menyempatkan diri untuk menemui saya. Obrolan kami pun berkembang dari mulai makanan enak di Bogor (karena setelah dari Depok kemarin rencananya saya langsung bermalam di Bogor), membahas NLP, hingga mempromosikan bisnis online.

Bisnis jasa, terutama pelatihan atau training SDM menurut saya merupakan bisnis yang cukup menantang untuk dipasarkan, namun teman saya ini berhasil menjual jasa-jasa pelatihannya sendirian, alias solo, semua memanfaatkan teknologi yang ada di internet.

Catatan: teman saya mengizinkan saya menulis cerita ini namun meminta saya untuk merahasiakan identitas-nya dan semua client-nya. Hal ini karena beberapa orang sudah meniru plek, alias copy-paste cara-cara marketing beliau, dan mulai mengambil beberapa client potensialnya. Walaupun rezeki sudah diatur sama Allah, namun menjaga kerahasiaan bisnis tidak dilarang dalam Islam, akhirnya saya menyetujui dan menghargai keputusannya. Dari sini kita panggil saja namanya Abdul.

Jadi bagaimana orang yang 1.5 tahun yang lalu masih belum dikenal dan belum memiliki jaringan ke mana-mana bisa menjadi trainer di belasan perusahaan nasional?

Jawabannya: dengan menjadi penulis.

Bukan sembarangan penulis, namun menjadi penulis yang konsisten.

Awalnya ia terinspirasi dari beberapa orang trainer senior yang tekun meng-update blog mereka. Dari situ Abdul pun memutuskan untuk menulis blog, dengan cepat ia menemukan “dunia”nya, Abdul baru sadar kalau ternyata Ia sangat suka menulis.

Setelah 2-3 bulan rutin menulis blog, Abdul pun mulai memikirkan secara serius tentang dunia barunya ini. Ia sempat tertarik menghasilkan uang dari blog-nya dengan iklan dari Adsense, dll, tapi tidak berapa lama memutuskan sepertinya iklan bukan cara yang tepat untuk menghasilkan uang dari blog pribadinya. Akhirnya Ia membuat blog yang baru khusus untuk eksperimen Adsense ini, dan kembali membuat blog pibadinya bebas dari iklan.

Saat ini ada beberapa blog yang ia kelola, dengan berbagai tema, hampir semua mengarah ke blog pribadinya.

Tapi itu lain cerita, saat ini kita akan fokus membahas bagaimana blog-nya Abdul bisa membuka jaringan ke perusahaan-perusahaan besar dan membuatnya kebanjiran job untuk training.

Setelah beberapa bulan, Abdul menyadari pengunjung yang datang ke blog-nya (walaupun meningkat terus setiap bulan) masih belum berada di angka yang Ia mau. Akhirnya ia mulai mencari website yang ramai dikunjungi dan mulai menulis disana. Ia lalu mulai menulis di Kaskus, Kompasiana, dan beberapa forum dan website lain. Sempat ada satu artikel yang lumayan menjadi viral, namun keesokan harinya, pengujung blog-nya kembali lagi seperti tidak ada kejadian apa-apa.

Saat ini Abdul mulai merasa kehilangan arah. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi mendatangkan pengunjung ke blog-nya.

Sampai suatu ketika Abdul melihat statistik di blog-nya. Saat itu ada satu artikel yang hampir tiap hari mendatangkan pembaca, baik itu dari Google, maupun dari referensi orang di social media. Artikel tersebut sebenarnya tidak spesial, namun yang baru Ia sadari adalah, artikel itu berisi satu solusi yang menjadi masalah target pasarnya: masalah produktivitas karyawan.

Ia sadar, dunia SDM dan pengembangan diri itu luas sekali, jika ia berusaha menulis semua topiknya, bukan saja ia akan kewalahan, namun pengunjung yang datang juga tidak fokus. Setelah Googling sana-sini Ia menemukan pola yang sama di perusahaan-perusahaan trainer dan motivator di Indonesia: banyak artikel membahas topik yang sama namun mendalam dan dengan sudut pandang yang berbeda-beda.

Acuannya saat itu adalah Kubik Leadership.

Dari situ tulisannya mulai fokus, hampir tiap hari artikelnya berisi tema yang senada. Hingga suatu saat, ada SMS singgah di HP-nya. SMS tersebut dari sebuah perusahaan telkomunikasi di Indonesia. Training-nya mungkin kecil, bukan skala kolosal dengan kapasitas 3000 orang, bukan. Pesertanya cuma 18 orang. Namun 18 orang ini sudah membuat Abdul semakin yakin akan satu hal: blog adalah sarana “jual diri” atau membangun personal brand yang bagus sekali.

Beberapa client kemudian, Abdul menyadari ada sesuatu yang kurang. Setiap kali ketemu orang yang belum kenal dengannya, Ia kesulitan menjelaskan tentang blog-nya. Disitulah Ia mulai membeli domain sendiri berakhiran .com untuk blog-nya. Namun ternyata masih sulit juga. Akhirnya Ia menyadari, hal ini karena tulisannya tidak berbentuk fisik. Ia sulit menggambarkan karyanya didunia nyata, karena tulisannya ada di dunia maya.

Akhirnya Ia menyadari kalau buku adalah kartu nama terbaik. Namun Abdul bingung, bagaimana Ia akan menulis dan menerbitkan buku? Ia tidak kenal dengan penerbit dan Ia tidak ada waktu untuk menulis. Blog-nya juga mulai tidak update serutin dulu. Ini semua karena Ia mulai sibuk dengan jadwal training-nya.

Tiba-tiba di ruang tunggu sebuah perusahaan, Abdul membaca blog dan iklan buku-nya Seth Godin. Disitu ia menyadari, Seth Godin beberapa kali merilis buku berdasarkan artikel-artikel populer di blog-nya. Setelah Ia meneliti lebih jauh, banyak sekali ternyata penulis yang melakukan hal yang sama, di Indonesia contohnya Raditya Dika, Yuswohady (konsultan pemasaran), dan Rony Yuzirman (pendiri TDA). Ia langsung ke Gramedia dan membeli beberapa buku yang berasal dari Blog. Kemudian mempelajari caranya dengan membandingkannya ke blog masing-masing penulis tersebut.

2 hari setelahnya, Ia mengumpulkan puluhan artikel blog populer dari blog-nya dan langsung menghubungi beberapa penerbit yang sudah Ia miliki kontaknya. Tentu saja beberapa orang langsung minta dikirimkan naskah, namun Abdul tetap mencari penerbit yang bisa Ia jumpai secara langsung. Dan akhirnya ketemu.

Ia langsung mempresentasikan data pengunjung artikel populer di blog-nya, target pasarnya siapa, judul bukunya apa, bahkan sampai desain cover-nya. Dia yakin bukunya akan banyak yang baca. Beberapa hari kemudian Ia ditelepon dan naskahnya (yang tidak diketik lagi, karena tinggal copy dari artikel blog yang sudah tayang) diterima. Dalam beberapa minggu, bukunya sudah ada di beberapa toko buku besar di Indonesia.

Dari cerita diatas, Abdul menyimpulkan beberapa hal ke saya mengenai beberapa eksperimennya menjual jasanya sebagai trainer, sekaligus membangun personal brand dengan cepat:



  1. Artikel blog menyebar lebih cepat, namun buku berdampak lebih dalam. Artinya artikel blog bisa dengan cepat dibaca oleh ratusan orang dalam sehari, namun secara emosional artikel blog akan kalah dengan buku, apalagi saat diberikan secara langsung oleh penulisnya. Karenanya, saat pertama kali bertemu dengan client, Abdul selalu membawa buku sebagai “kartu nama”. Dan sejak Ia memberikan buku, hampir setiap pertemuan berujung pada kerjasama bisnis. Berbeda dengan dulu saat Ia hanya menulis blog, “mungkin hanya setengahnya yang berlanjut jadi kerjasama bisnis mas, sisanya banyak yang ga menghubungi lagi, lupa mungkin ya, hahaha” katanya.
  2. Kesan pertama bisa di “desain” dengan blog, namun buku lebih bikin “ngangenin.” Melalui artikel blog, Anda bisa memperlihatkan bukti skill dan kredibilitas Anda. Dengan artikel blog Anda bisa menunjukkan ke pembaca seberapa paham Anda memahami suatu topik. Abdul menyadari hal ini. Karenanya ia menulis kajian mendalam tentang topik-topik yang menjadi masalah dalam perusahaan-perusahaan client nya, sehingga yang membaca langsung mengetahui skill Abdul dan tertarik untuk mengajak ketemuan. Ia memang “mendesain” sedemikian rupa agar client mengetahui Abdul memang pakar dalam masalah tersebut setelah membaca artikel blognya. “Setelah ketemuan langsung saya kasih buku mas, jadi artikel blog buat nalar, buku buat emosi, semua orang suka oleh-oleh mas, saya ga akan biarin partner meeting saya pulang tangan kosong. Oleh-olehnya ya buku itu.” tambahnya.
  3. Promosikan artikel blog, jangan blog-nya, apalagi bukunya. Abdul menggunakan jasa buzzer di Twitter, dan meminta pertolongan akun-akun dengan follower besar untuk men-tweet artikel blog-nya. Namun yang di promosikan bukan blog nya secara keseluruhan, namun artikel. Abdul bilang ke saya “Jadi untuk blog-nya mas Fikry, Jangan fikryfatullah.com nya yang di tweet, tapi artikelnya, mulai aja dari yang paling populer dan mention akun besar di Twitter yang menurut mas Fikry akan tertarik membacanya.” Menurut Abdul, saat seseorang tertarik dengan artikel kita, Ia akan membaca artikel lain di blog tersebut. Dan jika kita beruntung, Ia akan membeli buku kita. Jadi jangan buru-buru promosikan bukunya didepan.
  4. Test dan ukur, setiap artikel populer. Abdul melakukan test dan ukur saat mempromosikan artikelnya. Dibagian bawah artikel, Ia selalu menjual jasanya dan meletakkan detail kontak agar pembaca bisa dengan mudah menghubunginya. Ia membedakan CTA atau Call To Action untuk 3 artikel populernya. Satu dengan nomor tlp untuk SMS/ Whatsapp, satu dengan PIN BBM, dan satu lagi dengan LINE. Dari situ ia mengetahui mana artikel yang mendatangkan banyak client. Jika undangan datang melalui SMS berarti artikel A, jika melalui BBM berarti artikel B, dst. Dari sana akan ketahuan artikel mana yang paling banyak mendatangkan client. Sekarang Abdul sedang belajar menggunakan email marketing untuk menangkap perhatian dan mengumpulkan pembacanya.
  5. 9 kali gagal, 10 kali mencoba. Tidak semua promosi diatas akan berhasil. Abdul sendiri mengakui banyaknya ia gagal dalam prosesnya. Namun Ia berkata kepada saya: “9 kali saya gagal promosi seperti diatas mas, ga ada client yang datang. Alhamdulillah yang ke-10 berhasil.” Dari 200an lebih artikel blognya, yang akhirnya mendatangkan client menurutnya juga hanya 3-5 artikel. Sisanya hanya menambah pengunjung saja.
  6. Tidak apa-apa kalau bukunya tidak laris. “Buku saya ga laris-laris amat mas, tapi yang penting diterbitkan sama penerbit yang cukup terkenal. Itu yang membuatnya jadi kredibel.” Saya setuju dengan pernyataan Jeff Goins, kalau mau kaya jangan “hanya” jadi penulis. Jangan berharap banyak dari penjualan buku, karena efek samping buku kita bisa dijual di toko buku besar akan banyak sekali. Kalaupun buku kita akhirnya jadi mega best seller yang terjual 50ribu copy, anggap saja itu sebagai bonus.
  7. Artikel blog dan buku hanyalah pintu masuk. Pada akhirnya, artikel blog dan buku tidak akan membangun bisnis, Andalah yang membangun bisnis. Abdul berkata kepada saya: “Liat pak Ary Ginanjar mas, dari banyak orang bilang beliau besar dari buku ESQ, padahal menurut saya pak Ary bisa jadi seperti sekarang karena beliau memang pebisnis handal, bukan “hanya” karena bukunya jadi best seller.” Agar kerjasama bisnis bisa terjadi, memang dibutuhkan lebih dari sekedar artikel blog, buku, ataupun personal brand yang bagus. Kemampuan presentasi, cara closing (menutup penjualan), follow-up, bahasa tubuh, dan kualitas layanan, pasti akan besar sekali pengaruhnya. Saya melihat Abdul memang lihai jualan, jadi menurut saya wajar kalau sudah ketemuan, tingkat closing nya akan tinggi.

Di akhir pembicaraan, Abdul meninggalkan pesan yang mendalam buat saya, Ia mengatakan:



“Saya bukan mau jadi blogger mas, kebanyakan blogger yang saya kenal cuma nge-blog aja, ga pernah blog nya jadi bisnis beneran. Disisi lain saya juga ga mau jadi spammer, temen-temen saya yang bisnis online banyak masuk golongan spammer ini. Ngiklan nyampah di Instagram-nya artis-artis.

Blogger banyak yang ga jualan, ga bisa saya salahin, jualan memang susah. Akhirnya mereka jadi yang saya sebut: “Friendzone Blogger.” Jadi pacar (jualan) engga, jadi temen (penulis) juga engga karena mereka butuh duit juga, mirip Friendzone kan mas? Dimintain anter sana sini mau, minta bunga di beliin. Tapi terus hidupnya merana karena ga jadi bisnis. Di sisi lain spammer jualan mulu, ngiklan tak terkendali, sehingga ga ada berbagi manfaat ke masyarakat. Saya online marketer aja mas, ditengah.” 

Katanya sambil senyum…

Semoga sukses terus dengan training-triningnya mas Abdul…

Catatan: Ingin tau 7 cara mendatangkan 100 client pertama Anda sebagai trainer? Daftar #WebinarBOM disini:

Klik disini untuk mendaftar #WebinarBOM

Previous PostPosting Lama Beranda