FikryFatullah.com

Die hard 4.0 & Apresiasi

Leave a Comment
Die hard 4.0 menandai kembalinya sosok John McClane (diperankan oleh Bruce Willis), seorang polisi yang selalu berada dalam situasi yang salah pada waktu yang salah. Mungkin untuk para penggemar film Die Hard, sequel ini cukup dinanti mengingat interval yang cukup jauh dengan film Die Hard yang terakhir (Die hard - With A Vengeance) yang muncul sekitar tahun 95-an (bener ga ya??). Film ini Sangat layak ditonton (tanggapan pribadi ya!) baik dari segi alur cerita yang nggak bertele-tele, maupun dari segi visual yang menurut Saya sangat wah & manjain mata banget. Untuk yang belum sempat menonton 3 seri sebelumnya pun film ini dapat langsung dinikmati. Tapi sampai disini dulu bahasan soal Die Hard-nya, nggak bakat jadi kritikus.

Beberapa waktu yang lalu, sehabis ngajar, iseng-iseng, Saya nonton tv dulu sebelum mandi sore. Dalam keadaan hanya bercelana jeans tanpa baju, Saya nonton acara berita di sebuah tv swasta yang nayangin soal film Die Hard 4.0. Beritanya bukan review film, melainkan acara nonton bareng yang diadain sebuah tv swasta tersebut. Salah satu tamu kehormatan yang diundang nonton bareng adalah seorang Ibu Menteri dari kabinet Indonesia bersatu. Awalnya Saya pikir "duh.... berita ga penting" tapi saat akan mengganti channel ke acara kartun favorit, sang tamu kehormatan ditanya komentarnya soal film yang barusan ditonton. gini kira2 kutipan wawancaranya:





Reporter tv swasta (RTS):
"bagaimana tanggapan anda mengenai film yang baru ditonton??"

Sang mentri yang diundang sebagai tamu kehormatan (SMYDSTK):
"hi.. hi.. hi... film eksyenn... hi.. hi.. hi.. ga mati2.." (dengan senyum kecil & mata yang dibuang dari kamera)

RTS:
(bertanya dengan pertanyaan yang ga jelas karena lupa balikin mic-nya ke dia sendiri) "blblmbs.. sgrkktklsmj..."

SMYDSTK:
" yah... menghiburlah... ga mati2.. hi.. hi.. hi.." (sambil berjalan terburu2 berusaha melewati para wartawan)

RTS:
"......" (Saya lupa apa yg dia bilang...)

SMYDSTK:
"udah ya... makasih... udah ya...." (dan Beliau pun berlalu...)

Sekonyong-konyong Saya bengong.... sedikit nggak percaya kata-kata yang barusan keluar dari seorang menteri, perempuan lagi (yang katanya lebih sensitif). Saya nggak tau sebenarnya si reporter mau bertanya apa, tapi sepertinya harapan kami sama. si reporter mungkin mengharapkan beberapa komentar atau mungkin sedikit kata-kata yang bersifat "membalas" undangan tv swasta tersebut. Saya menanti sudut pandang beliau mengenai film tersebut atu review singkat karena waktu itu Saya belum nonton film-nya. Intinya kami berdua berharap hal yang sama APRESIASI...!!!.

Die Hard 4.0 itu kan hasil karya seni (dan menurut Saya karya seni yang spektakuler), dari awal ide cerita ditangan si penulis, dibikin story board-nya, jadi scenario yang kemudian sampai ditangan sutradara, sutradara mengarahkan para pemain, para ahli spesial efek menghabiskan ribuan jam menambahkan detail sesuai yang digambarkan scenario, belum lagi masalah budget, sampai akhirnya tim pasca produksi menyusun film-nya piece by piece sampe jadi film spektakuler yang sanggup jadi bahan obrolan para penontonnya sampai beberapa minggu ke depan setelah keluar dari bioskop. Semua itu menghabiskan waktu, biaya, tenaga, pikiran dan merupakan kerjasama ratusan crew yang luar biasa solid.

Tapi begitu sampai di Negri tercinta kita ini film-nya ga ada artinya, boro-boro diapresiasi, filmnya belum keluar di bioskop udah dibajak duluan. Jika sosok yang mewakili rakyat di Negri ini tidak dapat memberikan apresiasi yang pantas untuk sebuah karya kelas dunia seperti Die Hard 4.0, maka bagaimana dunia dapat mengapresiasi karya anak negri ini?

Oke mungkin beliau bukan penggemar film, ga suka Bruce Willis, ga suka kegelapan bioskop, claustrophobia (takut akan ruang tertutup), atau apalah. Apapun alasannya beliau kan sudah diundang oleh sebuah perusahaan TV Swasta itu dengan niat baik, yang dengan ikhlas dan sabar melewati semua tahapan birokrasi yang rumit (Saya pernah baca bahwa prosedur untuk mengundang seorang menteri ke dalam sebuah acara itu rumit sekali & terlalu panjang buat dijabarkan disini). Apakah salah saat karyawan (baca: reporter TV Swasta tersebut) yang memang ditugaskan oleh tempatnya bekerja mewawancarai sang tamu? Apakah benar-benar sepanjang film nggak ada yang meninggalkan bekas untuk dikomentarin? Kalaupun tidak ada komentar yang bisa diberikan (misalnya sepanjang film beliau tertidur) apakah salah mengucapkan 2 kata sesederhana “Terima Kasih….” Kepada wartawan yang mewakili TV Swasta tersebut sebagai bentuk apresiasi?

Saya pernah baca sebuah kutipan: “jika tidak suka makanannya, berterimakasihlah untuk minumannya”. Untuk kasus ibu menteri kita diatas mungkin dapat di interpertasi seperti ini: “kan bisa sih Bu bilang makasih buat undangan nontonnya aja…!!!!”.

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 comments:

Posting Komentar