FikryFatullah.com

The Day I Conquer Telkomsel

Leave a Comment

PERHATIANN..!!!!!

Posting ini bukan untuk mengumbar kejelekan layanan Telkomsel atau sejenisnya.. Kalau Anda pernah punya pengalaman buruk dengan Telkomsel silahkan baca posting yang lain.

Saya telah berhenti berlangganan internet Telkomsel Flash sejak bulan February 2011 karena alasan yang sama dengan kebanyakan orang, mahal dan lambat. Sebelum berhenti saya sempat mencari-cari bagaimana cara berhenti Flash di internet, saya ingin tahu pengalaman yang telah berhenti bagaimana, bayar kah? Dan syarat-syaratnya apa saja?

Pencarian saya pun berhenti di Kaskus. Disana saya menemukan banyak sekali keluhan-keluhan mengenai Telkomsel. Saat saya bilang banyak artinya buanyaaaaakkk sekali.

Ada yang sudah berhenti berlangganan namun beberapa bulan kemudian tagihan datang dengan nilai berjuta-juta, merasa diperas, mendapat ancaman akan kedatangan lawyer, dll, dsb.

Lebih lengkapnya langsung aja kesumbernya gan, klik disini.

Melihat semua kasus tersebut saya pun berancang-ancang saat mendatangi salah satu gerai Telkomsel di Medan. Siapin duit buat tagihan 2 bulan,fotokopi KTP, muka kusut, dan mental baja. Singkat cerita nomor antrian saya pun dipanggil, here it is..

Ternyata prosesnya mudah yah walaupun saya sedikit kecewa saat sang teller meminta tagihan untuk bulan berjalan dibayar full, padahal baru jalan berapa hari, tapi ya sudahlah, duit bisa dicari. Nyampe rumah tu kartu GSM langsung saya gunting atas saran sang teller agar tidak ada yang menggunakannya lagi, karena itulah penyebab sebagian besar kesalahan system, user masih menggunakannya setelah surat pernyataan berhenti berlangganan mereka tandatangani. Surat pernyataan berhenti berlangganan pun saya simpan erat-erat siapa tahu kejadian-kejadian yang menimpa Kaskuser menimpa saya juga.

Ternyata kejadian! setelah hampir 2 bulan memadu internet dengan vendor lain, akhir bulan Maret ini tagihan Telkomsel kembali menghampiri kotak pos karatan dirumah saya. Bermodal pengalaman temen-temen di Kaskus, sayapun mengumpulkan barang bukti dan kembali ke gerai Telkomsel tempat saya memutuskan tali silaturahim dengan Flash.

Beginilah laporan pandangan mata:

Teller Telkomsel Menor (TTM): “Selamat pagi pak, selamat datang di Telkomsel, ada yang bisa saya bantu?”

Saya: (dengan gaya cool) “mmm.. mbak ini saya sudah berhenti berlangganan dari bulan January kok masih kedatangan tagihannya? (menyodorkan barbut).

TTM: “oh begitu pak, sebentar ya saya periksa dulu (mengetik).

Saya: *hening… (Sedang twitter-an dgn teman-teman blogger untuk kopdar IDBlognetwork Medan yang akan dimulai kurang dari sejam lagi).

TTM: ”Pak.. (tertawa kecil menggoda) Ini bukan bapak yang harus membayar tapi Telkomsel yang berhutang ke bapak.”

Saya: " (setengah tidak percaya, well.. setengahnya lagi seneng) Telkomsel Ngutang ssama saya mbak?? Bener?? coba periksa lagi (gaya..)”

TTM: “iya bener pak, ini lihat (membalik monitor ke saya) tertulis minus pak, itu artinya kami hutang sama bapak.”

Saya: “Coba cek lagi mbak, jarang-jarang lho orang dapet duit dari Telkomsel”

TTM: “(tertawa lagi) Kan tanggung jawab kami pak, bisa minta tanda pengenal pak?”

Dan kelanjutanyya bisa Anda tebak, saya menerima uang saya kembali. Penjelasannya begini: saat berhenti berlangganan kemarin saya harusnya tidak bayar apa-apa lagi, tapi karena saya bayar juga jadi ya dibalikin.

Ini bukti dari semua kegilaan ini:

Kwitansi telkomsel

Nah pelajaran yang bisa kita petik dari kejadian ini adalah: There can be miracle when you believe. Loh??

Maksudnya adalah benar untuk berhati-hati menghadapi seseorang atau suatu perusahaan yang mungkin telah mengecewakan beberapa orang. Namun terkadang masalah yang Anda alami harus Anda hadapi sendiri walaupun Anda tahu masalah itu akan berakhir dimana berdasarkan pengalaman orang-orang.

Siapa tahu jalan yang Anda tempuh ternyata tidak sama dengan jalan yang ditempuh semua orang dan memiliki akhir yang tidak dimiliki semua orang.

Wah bahasan konyol ini mulai serius. Kita akhiri saja ya.

"There is a difference between knowing the path and walking the path." – Morpheus (The Matrix).

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 comments:

Posting Komentar