FikryFatullah.com

#indonesiajujur - Jangan Sampai Jadi Kufur

Leave a Comment

“Contekan buu…. Contekaaann.. beli 2 gratis satuuu….”

Beberapa orang pemuda menjajakan contekan secara bebas untuk Ujian Nasional disepanjang jalan menuju sekolah. Bahan kertasnya daur ulang, terbungkus rapi dan sudah memiliki label untuk setiap mata pelajaran pada bungkusnya. Ukurannya pun beragam, ada contekan berukuran A4 untuk yang lihai mencontek, ukuran postcard untuk yang ingin menyelipkannya dibawah papan ujian, hingga ukuran dompet untuk yang suka praktis dan memiliki mobilitas tinggi. Untuk yang menggunakan seragam dengan tangan panjang, ada jasa men-tato tangan siswa dengan contekan jawaban dengan tato temporer, praktis dan bisa hilang dengan air liur saat darurat. Para orang tua siswa pun memilih-milih contekan mana yang sesuai dengan soal ujian anaknya.

Lah ceritamu kok ngawur Fik..

Opo iki UN

Ngawur memang, tapi ngawuran mana dengan cerita Ibu Siami di Surabaya yang harus mengungsi dari rumahnya sendiri karena ancaman masyarakat disekitarnya. Mengungsi karena memperjuangkan kejujuran untuk menoak aksi mencontek massal yang akan dilakukan oleh sekolah tempat anaknya menuntut ilmu. Masyarakat lalu mengintimidasi dan mengusir Ibu Siami dan anaknya yang tergolong cerdas karena menganggapnya sok pahlawan.

Ah… Saya tidak tega menuliskan ceritanya di blog saya, silahkan Anda baca ceritanya secara detail di Post-nya Mas Khresna Disini.

Siapa sih manusia Indonesia yang tidak pernah mencontek? Siapa sih manusia Indonesia yang tidak pernah bohong? Mungkin tidak ada.

Tapi fakta seperti apapun yang akan terkuak dibaliknya tidak menjadikan tindakan itu benar, tidak menjadikan tindakan itu tidak memalukan. Seberapa besarpun dukungan untuk melakukannya.

Kita memang sudah jenuh dikepung kebohongan. Lihat saja di TV, kita sudah terlalu biasa melihat orang yang memperjuangkan kebenaran dan kejujuran berakhir tragis. Saat seorang Munir memperjuangkan kebenaran? Ia meninggal dengan tragis. Saat seorang selebritis memutuskan adalah benar baginya untuk berjilbab? Job-nya ludes, habis! Mau ngurus SIM dengan cara yang jujur? siap-siap aja makan hati. Belum lagi politisi.. Ah.. Sudahlah..

Namun disinilah peranan sekolah, untuk mendidik. Titik. Terutama jika masih di sekolah dasar, dimana anak-anak yang terlibat untuk belajar di dalamnya belum baligh, artinya belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Adalah tugas para guru untuk meyakinkan semua siswanya untuk berbuat benar dan mengutamakan kejujuran at all cost. Toh nantinya anak itu nyontek juga ya terserah, kita ingatkan kembali sebagai orang tua.

Ada nilai-nilai yang lebih besar yang harus kita perjuangkan selain nilai kelulusan UN. Nilai-nilai yang walaupun seumur hidup kita tanamkan belum tentu akan diamalkan, apalagi jika tidak kita mulai saat dini? Toh saat kita tidak Lulus UN kita bisa banyak sekali belajar kok. Belajar menerima kegagalan dan bangkit lagi. Percayalah anak-anak kita akan membutuhkannya sekali dalam hidup.

Nilai kelulusan UN itu penting, namun jangan jadi sinting.

Nilai kelulusan UN harus tinggi, namun jangan karenanya jadi merugi.

Kalau sudah kufur masih yakin bisa kabur??

Ayo dukung #Indonesiajujur lihat detailnya disini.

ilustrasi: http://bloggercikarang.com/2010/12/un-smp-dan-sma-dilaksanakan-mei-2011-dengan-formula-baru/

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 comments:

Posting Komentar