FikryFatullah.com

Jangan Konyol Sama Passion - Berbagi Bersama Pasangan Pendiri Villa Kek Pisang

1 comment
Kamis 15 September 2011 lalu Medan mendapat kunjungan kehormatan dari pasangan milyuner muda pemilik oleh-oleh khas Batam Villa Kek Pisang: Mas Denni (@Dennivilla) dan istrinya Mbak Selvi (@Selvivilla.)

CEO Villa Kek Pisang

Komunitas TDA Medan pun tidak membiarkan kesempatan ini berlalu begitu saja dan langsung mengadakan kopdar di Wong Solo medan. Acara yang berlangsung santai ini, benar-benar memberi manfaat yang besar terutama untuk pengusaha-pengusaha yang masih belum memperbaiki positioning dalam memasarkan produknya."Dulu Villa itu cuma jualan Kek Pisang (Mas Denni menggunakan "Kek" dari bahasa melayu untuk menggantikan "Cake" untuk menyebut Kue.) Awalnya kami memberikan sample gratis ke pabrik-oabrik yang ada di batam, semakin lama pesanan semakin banyak, omzet meningkat. Namun setelah hampir semua karyawan pabrik memesan dan makan kek pisang, pasar mulai jenuh dan omzet mulai turun."

Saat itulah datang seorang ibu dari Medan yang meminta: "Tolong bungkuskan kue ini yang rapi ya, mau aku bawa jadi oleh-oleh untuk pulang ke Medan." Saat itu muncul ide untuk membawa konsep Villa Kek Pisang menjadi: oleh-oleh khas Batam. Kebetulan saat itu Batam belum memiliki oleh-oleh yang khas. Maka Villa kek pisang pun menjembatani gap tersebut dengan menambahkan tagline: "Oleh-oleh khas Batam" pada produknya. And the rest is history.

Selain membahas positioning, pasangan ini juga membahas pentingya untuk fokus dalam berusaha. "Banyak orang bilang jangan letakkan telur dalam satu keranjang, kalau buat saya justru resiko meletakkan satu-satunya telur pada satu keranjang itu yang menarik" kata mbak Selvi. Mas Denni menambahkan lagi: "Toh ujung-ujungnya cari duit kan?? bagus ya fokus menggali satu sumur yang kita tahu potensi kedalamannya daripada menggali sumur baru yang kita tidak tahu apa-apa bagaimana kondisinya."

Namun yang paling menarik dari malam itu adalah saat ada yang menanyakan mengenai menjalani usaha berdasarkan passion, atau minat dan bakat kita. "Passion saya ya usaha apa yang profit." Awalnya jawaban yang muncul cukup mengejutkan saya. Namun memang benar, kita tidak boleh juga terlalu mengatasnamakan passion untuk menjalankan usaha. Jika usahanya terus merugi dan berdarah-darah, tentunya passion saja tidak cukup. Ada karyawan yang harus kita gaji, ada kewajiban-kewajiban lain yang kita harus jalankan, dan semuanya butuh uang. "Passion saya bukan di kue pisang, namun karena kue itu mudah membuatnya dan banyak yang suka, ya sudah saya pelajari dan jalankan dengan serius" tambah Mbak Selvi. Saya pribadi setuju dengan pasangan milyuner ini, passion akan sangat mudah kita cari dan kejar bila seluruh kebutuhan kita sudah bisa terpenuhi. Kita juga lebih mudah mengatur passion daripada mengatur kebutuhan. Adalah benar untuk mengejar passion kita sampai titik darah penghabisan, namun ingat waktu kita sangat terbatas di dunia ini sedangkan tanggung jawab kita untuk menebar manfaat untuk orang lain tidak ada habisnya. Nabi Muhammad SAW sendiri masih mengutamakan Umatnya bahkan sampai saat terakhir beliau. Jadi masih merasa passion Anda yang paling penting dalam hidup ini??

With CEO Villa Kek Pisang

"Jangan konyol sama passion, usaha yg udah berdarah-darah jgn dibelain atas dasar passion, passion saya ya usaha apa yg profit" - @Dennivilla


Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

1 komentar:

  1. Passion = nafsu.
    Menurut saya, passion itu bukan untuk diikuti. Tapi kita kudu memeliharanya saja.

    Sendainya kita tidak punya nafsu, rasanya tidak mungkin laki-laki bisa suka dengan perempuan, begitu pula sebaliknya.

    Pastinya, bila berlebihan pun tidak baik.

    So, drive the passion. (Not follow the passion)

    Btw thanks banget iya Pak atas infonya. ;)

    BalasHapus