FikryFatullah.com

Kopdar Dengan Etika

Leave a Comment
Malam minggu kemarin (24/09/11) mungkin adalah kopdar paling beretika di sepanjang hidup saya. Bagaimana tidak, hampir seluruh materi kopdar malam itu membahas atau berdasarkan etika online.
Semua bermula dari Naskah Tebet yang Bang Nich tulis beberapa hari yang lalu sepulangnya dari Jakarta. Ia lalu berniat ingin mensosialisasikan temuannya tersebut berbarengan dengan acara ini. Bang Agoez Perdana lalu mensinergikan tema-nya mengenai etika citizen journalism, saya menyodorkan bagaimana etika sebagai modal personal branding di social media. Klop!


Kopdar Medan

Ketiga materi kami ini akan melengkapi acara utama malam itu: live streaming dengan event SocMedFest Jakarta. Namun apalah daya, setelah persiapan yang lumayan ribet acara utama live streaming tersebut tidak terlaksana.


Namun selain peristiwa mengecewakan tadi acara malam itu cukup hangat. Diawali dengan presentasi Bang Agoez mengenai citizen journalism. Dalam presentasinya ia mengupas bagaimana saat kejadian-kejadian genting seperti peristiwa WTC atau tsunami di Jepang terjadi tidak ada satupun wartawan ataupun tim kantor berita yang ada di lokasi. Namun berkat masyarakat, gambar-gambar spektakuler dan laporan-laporan aktual pun dapat kita peroleh. Ia lalu memaparkan semakin banyak media-media besar seperti Kompas melalui Kompasiana, TV One, dan Metro TV melalui program Suara Anda, menjadikan citizen journalism menjadi salah satu kanal utama sumber berita mereka. Kini setiap orang memiliki kekuatan yang sama dalam menyebarkan berita. Sehingga semakin memicu perdebatan akan kebutuhan akan sebuah rumusan atau kode etik.


Materi kedua lalu meluncur dari sekumpulan slide Bang Nich (di share ga bang? hehe.) Ia memaparkan fakta-fakta hasil survei ICT Watch mengenai etika online. Ternyata cukup banyak pengguna social media pernah merasa dirugikan melalui social media. Dan lebih mengagetkan lagi, banyak juga yang merasa sudah merugikan orang lain melalui social media. Untuk lebih lengkapnya silahkan Anda baca disini.

Lalu saya menutup dengan mempresentasikan etika sebagai modal personal branding di social media. Untuk membangun personal brand yang bagus di social media, salah satunya dapat dengan menerapkan etika dalam penggunaan sehari-hari. Etika dalam kehidupan sehari-hari saja sulit sekali menjaganya, masih banyak yang merasa bodoh karena tidak melanggar lampu merah saat jalanan sepi. Belum lagi akun-akun tidak bermoral di social media yang selalu lebih menggairahkan dan sering menebar sensasi sesaat.
Namun begitu, untuk hubungan jangka panjang, kita tentu lebih memilih orang yang memegang kuat nilai etika bukan? Saat Anda memilih istri Anda akan memilih yang sama liar-nya saat Anda memilih pacar? Berikut ini beberapa tips bagaimana melatih penerapan etika di social media:


1. Mulai Dengan Mendengar.
Adalah tidak sopan berbicara saat orang lain berbicara. Demikian juga di social media. Masih sering kita melihat seseorang memberi link menuju blog mereka saat memberi komentar di blog orang lain tanpa membaca blog tersebut. Bagaimana mungkin orang lain mau mendengarkan isi blog kita saat kita tidak pernah mendengar blog mereka??
Pendengar yang baik akan menyimak dengan sungguh-sunggu. Buktikan ke pemilik blog bahwa Anda menyimak. Ulas blog-nya dalam komentar Anda. Lengkapi jika kurang. Jika ada yang ingin Anda kritik lakukan dengan baik.


2. Memberi Terlebih Dahulu.
Saat mengunjungi kediaman kerabat Anda, tentunya akan lebih baik jika Anda membawa sesuatu untuk tuan rumah kan? Bagaimana jika sebaliknya? Ada orang berkunjung ke kediaman Anda, tentunya akan lebih baik jika Anda langsung memberi minuman atau makanan kecil tanpa perlu sang tamu meminta. Jika tidak seperti itu kebanyakan orang akan menganggap kita tidak beretika.
Demikianlah selayaknya blog kita, saat pembaca kita tiba, berilah mereka dengan content bermanfaat bahkan sebelum mereka meminta. Bantu RT tweet yang bermanfaat bahkan jika mereka tidak mem-follow Anda.


3. Make Them Famous.
Jika mengutip content dari blog lain, jangan pernah lupa menyertakan link asal content tersebut. Lebih baik lagi, buat mereka menjadi terkenal. Ajak pembaca Anda untuk mengunjungi blog atau mem-follow twitter sang produsen content. Anda juga bisa me-review blog mereka, merekomendasi mereka saat follow friday (#ff), atau apa saja yang dapat membuat sumber Anda tadi lebih terkenal.


4. Handling Objections.
Pada suatu titik dalam perjalanan kehidupan social media seseorang pastilah ada yang keberatan akan sesuatu. Selalu saja akan ada yang memberikan komentar negatif di blog Anda, mem-bully Anda di Twitter, dan lainnya. Anda hars menguasai seni mengatasi hal-hal negatif ini agar terbangun personal brand yang baik. Saya pribadi biasanya memberlakukan hukum 24 jam ketika menerima reaksi negatif. Saya baru akan merespon kembali biasanya keesokan dengan emosi yang sudah lebih stabil.


Memang membahas etika online itu tidak ada habisnya dan tidak bisa kita paksakan ke semua orang untuk menerapkannya. Namun memang alangkah baiknya jika kita memiliki acuan yang nantinya dapat menjadi anggukan universal untuk para pengguna internet.


About Agoez Perdana
Follow Agoez Perdana on Twitter.
Read his blog.


About Nich
Follow Nich on Twitter.
Read his blog.


"Just because you can, it doesn't mean you should."
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 comments:

Posting Komentar