FikryFatullah.com

Perjalanan Ke Banda Aceh Bagian 1

Leave a Comment
Pantai In Wide Shoot

Saya dan tim BenahIN tanggal 21 October malam kemarin mendarat dengan salamat di Banda Aceh. Walaupun relatif  dekat dari Medan, Kunjungan ini adalah kunjungan pertama saya di bumi Serambi Mekah. Disini salah satu EO lokal mengundang kami untuk mengisi sebuah seminar mengenai pemanfaatan social media untuk bisnis.


Pemerintahan Kota Banda Aceh mencetuskan kota ini sebagai "Cyber City" pasca terjadinya bencana gempa dan tsunami yang melanda sebagian besar Aceh pada tahun 2004 lalu. Jadi jangan heran jika Anda bisa mengakses internet bahkan di warung kopi kecil di pinggir jalan sekalipun. Wifi seperti tidak putus sepanjang jalan.


Kesan pertamanya aneh juga di warkop kecil seperti itu melihat anak-anak muda menggunakan tablet dan laptop dimana-mana, seperti tidak sesuai tempatnya. Namun tentunya mata pendatang selalu beda melihat semua hal yang biasa dirumah.


Canai Mamak KL

Banda Aceh yang tidak memiliki bioskop dan sedikit sekali mall membuat masyarakatnya sangat fanatik dengan warung kopi. konsep warung kopi pun beragam dari mulai yang biasa hingga di gedung 2 tingkat dengan kapasitas ratusan orang.


Tanggal 22 October hari sabtu esoknya, saya mengawali hari dengan mengisi seminar. Lokasi tempat seminar pun unik: Canai Mamak KL. Mamak berarti kaum India Muslim dalam istilah Malaysia. Sesuai namanya cafe ini menjual segala jenis Roti Canai yang dapat Anda bayangkan, dan beberapa pasti belum pernah Anda dengar. Walaupun lokasinya sederhana, ruang seminarnya nyaman dan terutama wifi-nya itu lho: kuenceng sekaliiii.


Saya tidak tahu antusias masyarakat dalam memanfaatkan social media di Banda Aceh. Walaupun dari sisi fasilitas sangat mencukupi, saya cukup kesulitan menghubungi komunitas social media seperti Aceh Blogger karena websitenya tidak bisa saya akses. Mayoritas peserta juga mengaku belum menggunakan social media secara maksimal, sedikit peserta yang datang memiliki blog.


Saya lalu berkesempatan menikmati Ayam Tangkap khas Banda Aceh yang enak sekali. Ditengah perjalanan sebelum kembali ke seminar sesi ke-2 berlanjut saya berkesempatan untuk mengadakan talkshow dengan Radio Three FM Banda Aceh sebelum akhirnya sesi ke-2 selesai pukul 05:30 sore.


Ayam Tangkap

Perjalanan saya lalu berlanjut ke Pantai Ule Lhe yang terletak di tengah kota Banda Aceh. Kehampaan sarana hiburan pun seperti sirna saat saya tiba ke pinggir pantai itu. Disepanjang garis pantai banyak masyarakat duduk untuk sekedar menikmati jagung bakar yang memang banyak sekali disana. Sunset disini sangat menyenangkan.


Panta Ulhe Lhue


Sepanjang jalan pulang dari pantai, rekan saya di Banda Aceh menjelaskan sisa-sisa tsunami, bilik penyelamatan dengan heli-pad yang merupakan sumbangan negara asing, kantor pemerintah yang unik, dan mesjid yang selamat dari terjangan tsunami saat bangunan lain disekitarnya roboh.


Kami singgah sebentar di Masjid Raya Baiturrahman dimana sholat Maghrib disana jumlah jamaahnya sama dengan sholat Jum'at. Wow! Saya tidak yakin menemukan pemandangan seperti ini di masjid raya lain di Indonesia.


Masjid Baiturrahman


Di masjid ini kami juga bertemu dengan Dian Pelangi dan Hijabers Club Banda Aceh yang memang sedang melakukan acara fashion show disana.
Nahan Diri...
Hari pertama saya tutup dengan kembali ke Canai Mamak dan menikmati sepiring roti canai kari ayam yang luar biasa mantap. Besok jika sempat rencananya saya akan menyambangi Museum Tsunami, dan peninggalan tsunami lain semoga waktu mengizinkan.


Canai Kari Ayam

...Ternyata gini rasanya kangen sama anak.

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 comments:

Posting Komentar