FikryFatullah.com

Perjalanan Ke Banda Aceh Bagian 2

Leave a Comment
Setelah kemarin kami berkeliling ke pantai Ulee Lheu dan makan di beberapa tempat di banda Aceh, perjalanan hari kedua kami mulai dengan berkeliling ke beberapa sisa-sisa peninggalan tsunami yang pernah melanda Aceh.


Matahari belum sepenuhnya bersinar saat kami mengunjungi tempat pertama: Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Apung yang terseret cukup jauh dari garis pantai ke tengah kota banda Aceh. Sayangnya saat kami datang PLTD ini sedang mengalami renovasi karena pemerintah Banda Aceh ingin membuatnya menjadi seperti tsunami learning center. Batal deh mau foto-foto.


Kapal Diatas Atap

Gagal di satu tempat tidak membuat tim hore ini patah semangat. Waktu masih menunjukkan jam 7 pagi lewat sedikit, masih ada waktu sebelum Workshop yang rencananya mulai jam 9. kami pun bergegas ke lokasi kedua, kapal yang menyangkut diatas rumah penduduk.


Don't Broken

Luar biasa sekali melihat bagaimana kapal nelayan yang berukuran besar seperti ini bisa sampai berada di atas rumah warga. Namun sayangnya fasilitas disekitar lokasi ini terkesan seadanya. Di jalan menuju kebagian atas kapal, foto-foto ditempelkan dengan seadanya sekali di tempat yang tidak seharusnya, menurut saya ini lebih seperti merusak daripada memperindah atau memberi manfaat. Foto-foto yang dipajang juga sudah pudar dan tidak terlihat lagi gambar atau tulisan apapun.






Saya pun menapaki jalan melandai untuk dapat melihat kapal ini dari atas. Dari sini saya dapat melihat dengan jelas detail kapal ini dan membayangkan tingginya gelombang tsunami yang melewati daerah ini saat itu.

Kapal diatas rumah, top view

Dari atas sini juga terlihat struktur rumah menjadilebih jelas, kamar tidur, dapur, kamar mandi danain-lain. Namun beberapa tiang penyangga lampu sudah miring, bahkan satu diantaranya sudah rubuh. Hal ini tentunya berbahaya karena jarak rumah-rumah warga yang berdekatan. 


Tiang Peyangga


Berbahaya


Sedih melihat lokasi peninggalan ini seperti tidak terawat. Padahal rumah ini bisa mengingatkan kita akan orang-orang yang meninggalkan kita saat bencna besar itu terjadi. Diantara rombongan saya sampai mendengar celetukan:


"...Kalau ini di Malaysia atau Singapore pasti sudah difasilitasi bagus sekali dan dilegkapi dengan layar interaktif untuk menjelaskan asal muasal tempat ini. Jadi pasti mendatangkan devisa yang lebih besar juga."


Yang lain menyahut:


"..Iya kalau sama mereka pasti website-nya bisa bagus  dan wah, jadi informasinya bisa lengkap sebelum orang datang berkunjung."


Miris mendengarnya, aaah sudahlah..


Perjalanan kami lanjutkan ke Museum Tsunami. Begitu turun di parkiran kami langsung mendapat sambutan terbuka. Karena benar-benar ada lubang terbuka di bawah loketnya:


Museum Tsunami: Selamat Datang

Sayang museum ini belum buka, jadi kami hanya 'mempreteli' bagian luar museum ini saja. Saya langsung bertemu dengan sisa helikopter polisi ini didepan pintu utama:

Heli Polisi

Kami lalu bergerak masuk kedalam dan langsung menemui sebuah kolam kecil yang ada ditengah ruangan. Disekeliling kolam ini terdapat bola-bola kecil yang bertuliskan nama-nama negara yang membantu Aceh dalam restorasi tsunami.

Museum Tsunami: The Bridge

Saya suka sekali design kolam dibagian luargedung ini, jika saja air kolamnya sedikit lebih bersih, pasti akan sangat menarik. Saya juga menemukan sampah-sampah kecil diatas koamnya seperti bungkusan permen, dan lain-lain.



Dari sini kami ke arah bawah tempat Theater-ya berada. Dalam perjalanan menuju Theater saya masih menjumpai pilar museum yang ditempeli oleh kertas-kertas, menurut saya pemandangan ini mengganggu sekali.


Saya suka design theater ini. Pasti menyenangkan melihat pertunjukan apapun yang ditampilkan disini dari bangku penontonnya.

Theater Tsunami

Sayangnya waktu sudah menunjukkan hampir pukul 9 pagi, artinya saya harus bergegas jika tidak ingin terlambat memberikan workshop Saya. 

Terima kasih untuk teman-teman dari Banda Aceh. Semoga saya bisa kembali kesini lagi.
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 comments:

Posting Komentar