FikryFatullah.com

Tidak Perduli? Bukankah Kita Memang Seperti Itu?

Leave a Comment
Kemarin saya melihat gambar ini di tweet oleh seseorang:



Foto Steve Jobs meninggal yang ditangisi jutaan orang sementara jutaan penduduk Afrika meninggal tidak ada satupun yang menangisi. Reaksipun bermunculan, ada yang bilang miris, sedih, dan ungkapan kegelisahan lain. Kenapa?


Bagaimana dengan ini?


Anda tentunya masih ingat dengan Kasus Prita yang dengan gemilangnya kumpulan koin dari masyarakat berhasil membayar lunas tuntutat untuk Prita berlebih. Kemana perhatian masyarakat untuk 3250 jiwa korban Lumpur lapindo?

Atau yang ini:


Martunis yang selamat dengan memakai seragam nasional Portugal langsung menjadi sorotan dunia, bertemu dengan celebrity kenamaan seperti Celine Dion, hingga muncul di beberapa cover majalah di luar negri. Bagaimana expose dunia untuk Aceh saat itu? Adakah foto-foto tsunami menjadi cover majalah di Portugal?

Akankah film Titanic akan laris seperti sekarang jika di film itu ternyata kisahnya Leo 'bertugas' untuk menyelamatkan 1500-an penumpangnya dan bukan Kate seorang? 



Apa yang terjadi disini? Kenapa kekuatan individu lebih besar dari pada sekumpulan besar massa? Jawabannya sederhana: EMOSI.

Kita mengenal siapa Steve, Prita, Martunis, dan Kate karenanya kita PERDULI. Kita tahu CERITA dibelakang masing-masing karakter itu.

Steve yang dipecat dari Apple, Prita yang mengeluh mengenai Omni International, Martunis yang jumpa dengan Christiano Ronaldo, dan Kate yang akan dijodohkan dengan pria yang tidak ia cintai. Cerita-cerita ini terus mengikat emosi kita dan membuat kita mau melakukan sesuatu untuk membantu mereka (well, saya siap menggantikan Leo kalau ada sequel-nya.)

Namun satu juta penduduk Afrika yang kelaparan hanyalah data dan statistik dimata kita. Demikian juga dengan 3250 Korban lumpur Lapindo, Aceh, dan 1500 penumpang Titanic. Angka-angka yang begitu besar membuat kita merasa bantuan sebesar apapun yang kita lakukan menjadi kecil rasanya. 

Belum lagi mereka harus berebut perhatian dengan seseorang yang membutuhkan perhatian yang paling besar di era digital ini: kita sendiri. Jadi? Kenapa kita harus perduli??

Dunia social media dan marketing pun tidak lepas dari fenomena ini. Iklan yang bersifat massal tidak lagi relevan, blog yang ditujukan untuk semua orang tidak akan ada yang baca. Oh ya, Anda masih memanggil follower Anda dengan sebutan 'Tweeps' ? 

Saya sambut Anda di dunia Anda yang baru. Pahit memang, tapi tidak ada yang pernah bilang ini dunia yang sempurna.


Ilustrasi: Gapingvoid


If I look at the mass I will never act.” - Mother Teresa.

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 comments:

Posting Komentar