FikryFatullah.com

Satu Tahun Meninggalkan Dunia Musik. Apa Yang Saya Pelajari?

1 comment


Ya, Januari 2012 ini tepat satu tahun saya meninggalkan dunia musik professional. Tidak bisa saya pungkiri, dunia musik benar-benar memberikan pengalaman yang luar biasa untuk hidup saya. Bertemu banyak orang, manggung dari acara kawinan, kampanye partai politik, hingga panggung kelas internasional, hari ini duduk satu meja dengan mentri, besok duduk di warung bersebelahan dengan abang becak menunggu jadwal manggung, di suatu acara sebuah mobil Alphard menjemput ke venue, di acara lain berbasah-basah kehujanan naik motor dengan bass tercinta.


Hari ini nge-jam dengan musisi legendaris seperti Dwiki Dharmawan, besok harus mengiringi penyanyi pendatang baru yang suaranya fals, hari ini lagu-lagu Trio Macan, besok George Benson, hari ini manggung di dekat rumah, besok harus transit dahulu di Soekarno-Hatta sebelum sampai ke kota tujuan manggung, hari ini manggung di gemerlapnya dunia malam, besok manggung di Ramadhan Fair. 


Bulan ini pendapatan manggung bisa buat nyicil mobil, bulan depan harus perang tarif dengan musisi lain demi satu job, dulu pakai bass Prince, bass terakhir yang saya jual bass Lakland, pernah EO membayar dengan nasi bungkus, lain waktu mereka bayar dengan fee + bonus + sawer + voucher liburan. *menghela nafas


Benar-benar semuanya merupakan pengalaman yang membentuk diri saya seperti sekarang. Sebuah industri unik yang benar-benar tiada duanya. Dunia dimana karya berbicara.


Tidak ada yang lebih menyedihkan saat meninggalkan musik daripada melihat wajah sahabat musisi, murid, rekan-rekan sound engineer, client, dan lain-lain yang kecewa mendengar keputusan saya. 


Namun post ini bukan untuk membahas mengapa saya meninggalkan dunia musik, tapi beberapa hal yang saya pelajari yang akhirnya membantu saya menghadapi dunia setelahnya. Berikut ini saya rangkum 5 pelajaran berharga yang saya dapat selama 12 tahun (bukan typo) berkarir sebagai pemain bass:

___________________


1. Be A Team Player


Sebagai pemain bass,  harus saya akui Anda akan jarang sekali menjadi pusat perhatian. Sebagian besar peranan seorang pemain bass adalah menjaga groove sebuah lagu tetap terjaga. Saat Anda melihat diantara penonton mulai mengangguk-anggukkan kepala atau menggerakkan tubuh mereka mengikuti irama lagu, artinya Anda telah berhasil menjadi pemain bass. Sesekali Anda memiliki kemewahan untuk memainkan  trik-trik andalan Anda di bass dan menjadi pusat perhatian, namun sisanya, Anda milik band Anda.


Seorang team player yang baik, harus tahu kapan harus maju dan mencuri perhatian dan lebih penting lagi harus tahu kapan harus mundur dan mendukung seluruh tim serta menutupi kekurangan anggota tim-nya. Mungkin awalnya terdengar membosankan, namun saat Anda mulai menikmatinya, Anda akan sadar sebuah tim hanya akan sekuat anggota terlemahnya. 


Dalam musik, anggota band adalah keluarga Anda. Anda harus mengenal mereka sebaik Anda mengenal abang/ kakak Anda. Dalam setahun ini saya sudah beberapa kali gagal membangun perusahaan karena ketidakcocokan dengan tim. Saya sudah merasakan yang orang bilang: "Memilih rekan bisnis itu seperti mencari jodoh." Sulit memang. 


Anda akan selau berada di dalam tim. Memulai bisnis, bekerja di suatu perusahaan, menikah, berkeluarga, semua menuntut teamwork yang solid. Jadilah team player.




2. Insting Itu Penting


Musisi yang baik bukan yang mengetahui semua teori musik, namun yang insting musikalnya sangat kuat sehingga setiap not yang ia mainkan seperti hidup dan bernafas. Mereka bisa mendengar semua not yang akan mereka mainkan bahkan sebelum not itu mengeluarkan suaranya.


Insting. Naluri. Kata hati. Ari Ginanjar Agustian mendefinisikannya sebagai: bisikan tuhan dalam hati manusia, Steve Jobs menyuruh kita mempercayainya dan mencari jawabannya nanti dimasa depan. Pokoknya ikutin dulu deh.


Dulu saat saya memilih untuk memperdalam bass, semua orang menertawakan saya. Namun hati saya selalu kembali menyuruh saya bermain bass. Dari beberapa usaha yang saya tangani pun yang paling banyak saya analisis yang gagal. Yang hanya mengikuti insting justru jalan melenggang seperti tidak ada beban, Alhamdulillah.




3. Pahamilah Marketing


Tidak, saya tidak menyuruh Anda untuk kuliah lagi. Namun pelajari apa saja yang Anda bisa mengenai marketing. Marketing untuk saya adalah ilmu kehidupan, lebih mengarah ke seni daripada cabang ilmu pengetahuan.


Pada zaman saya (uhuk) sulit sekali untuk musisi yang tinggal diluar ibukota untuk sukses. Internet dan social media masih barang terletak diantara barang mewah karena layanan internet atau warnet masih mahal, atau sampah yang hanya menghabiskan waktu. 


Musisi harus bertaruh dengan nasib dan pergi ke Jakarta kalau mau rekaman dan sukses. Itulah paradigma yang menghantui semua musisi di Medan saat itu. Alternatif lain, Anda harus main secara rutin di cafe, pub atau club malam untuk benar-benar bisa menghasilkan uang dari musik. 


Saya tidak mau mati konyol di Jakarta dan saya tidak suka lingkungan club malam. Karenanya saya cari alternatif ketiga. Pencarian saya mengarah ke satu kesimpulan: Harus bisa JUAL DIRI!!


Akhirnya saya berkenalan dengan dunia personal branding, yang akhirnya membawa saya ke marketing secara lebih mendalam. Lalu internet (saat itu Forum online, Facebook dan Youtube) saya pilih menjadi distribusi saya untuk "jualan."


Alhamdulillah saya mencapai titik yang mungkin kebanyakan musisi di Medan tidak mencapainya, baik dari sisi finansial maupun dari sisi brand. Dan saya berhasil mencapainya tanpa tinggal di Jakarta atau main rutin di pub.


Bahkan saya sempat berkolaborasi dengan musisi Jakarta secara online bernama Upetih. Benar-benar pengalaman yang tidak akan saya lupakan.


Apapun profesi Anda, karir Anda, Anda akan selalu bersinggungan dengan marketing. Tamat kuliah? Anda harus cari cara untuk menjual diri Anda ke perusahaan-perusahaan besar. Buka usaha? Anda harus tahu bagaimana agar pasar mau membeli produk Anda. Politisi? Jelas harus paham personal branding. 




4. Mengajarlah


"..Dengan mengajar kita akan belajar."


Dulu saya beranggapan siapapun yang menyebutkan kalimat itu adalah gila. Kini saya ingin berterimakasih pada orang gila yang mengatakannya pertama kali. 


Saya merasa menjadi musisi yang lebih baik setelah mengajar. Kebetulan saya sempat mengajar di 2 sekolah musik sekaligus: Purwa Caraka Musik Studio dan Lembaga Pendidikan Musik Farabi. Selain itu saya juga aktif mengajar secara private di rumah. 


Saat mengajar, Anda akan mempelajari banyak sekali hal, baik dari sisi materi yang Anda ajarkan, maupun dari sisi lain. 


Mengajar melatih kita untuh menyederhanakan ide-ide yang sulit dan tentunya melatih kemampuan berkomunikasi kita.


Mengajar buat saya adalah menemukan titik tengah dari 3 hal: Apa yang mereka harus tahu, apa yang mereka mau tahu, dan apa yang mereka bisa terima. 



Sekarang medium mengajar semakin banyak, Anda bisa menggunakan blog, mengadakan Kultwit (Kuliah Twitter) melalui Twitter, presentasi menggunakan Slideshare, atau demonstrasi materi Anda via Youtube. 


Yang Anda ajarkan pun tidak melulu harus akademis, hal sehari-hari seperti bagaimana mengganti ban mobil Anda sendiri pun akan sangat bermanfaat bagi beberap orang.




5. Utamakan Sedekah


Apapun yang Anda lakukan, memberilah terlebih dahulu. Sedekah yang saya maksud dapat berupa ilmu, content blog yang baik, menyelesaikan masalah dalam suatu komunitas online, atau sekedar komentar di blog orang lain. 


Blog saya dulu penuh dengan tips-tips seputar bermain bass yang bahkan beberapa nilainya lebih baik daripada buku-buku belajar bass yang ada di toko buku. Anda bisa mendownload semua pelajaran bass tersebut secara gratis lengkap dengan audio file dan partiturnya.


Seperti layaknya sedekah, semua materi tadi tidak saya harapkan kembali kepada saya dalam bentuk apapun. Kalaupun ternyata kembali ya syukur, kalo engga ya udah. 


___________________


Rasa terimakasih saya yang tak terhingga kepada semua yang telah melibatkan saya di dunia musik. Sekarang saya permisi mengejar passion saya yang lain.


Saya tinggalkan Anda dengan lagu yang terakhir saya rekam di studio mini dirumah saya. Lagu ini berjudul "Tentang Kita" yang dulu ada di album kompilasi komunitas Streetbass.


Enjoy.


 
Tentang Kita by Fikry Fatullah
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

1 komentar:

  1. Mas Fikry, salah satu orang yang saya kagumi..
    Kepribadian, skill, keberanian dan totalitasnya luar biasa. Saya belum pernah bertemu dengan Mas Fikry, cuma kenal dari dunia maya, tapi merasa sangat akrab. Yang paling saya kagumi, beliau sangat rendah hati, tidak pernah sombong, padahal jagoooo bangetttt.

    Kesan pertama setelah baca artikel ini adalah SEDIH. Hehe.. Aneh ya? Tapi saya selalu mendukung Mas Fikry.

    Terima kasih untuk ilmu-ilmu yang sudah Mas ajarkan kepada saya, juga pelajaran dan pengalaman yang sudah Mas Fikry ceritakan. Sukses selalu ya, Mas!

    Marco

    BalasHapus