FikryFatullah.com

Contextual Marketing Dalam Social Media

Leave a Comment

Alkisah di salah satu stasiun kereta api bawah tanah (subway) di Washington DC, Amerika, berdiri seorang musisi dengan biolanya. Saat jam sibuk pagi hari di pusat pemerintahan Amerika tersebut, sang violinist (sebutan untuk pemain biola) mulai memainkan beberapa lagu. Ditengah gemuruh kesibukan kota, hampir tidak ada yang memperhatikan lagu-lagu klasik yang mengalir dari gesekan biola-nya.

Sesekali beberapa orang melempar uang koin seadanya sambil lewat, beberapa berhenti sebentar sekedar menoleh. Seorang anak yang ingin melihat lebih dekat langsung ditarik oleh orangtuanya yang sedang dalam keadaan tergesa-gesa.

Sang musisi menutup sesi pertama permainannya. Dengan gaya yang ekspresif ia mengakhiri lagu tersebut dengan elegan sekali. Tidak ada tepuk tangan, teriakan, atau reaksi apapun dari pengunjung stasiun yang lewat.


Sang musisi mulai memainkan lagu kedua, sekali lagi alunan indah menggema didekat pintu masuk stasiun tersebut. Namun kali ini tidak berapa lama ada seorang wanita yang berdiri menikmati permainannya, ia terus berdiri disana saat orang lain berlalu lalang melewatinya. Saat lagu kedua berakhir sang violinist mendekati wanita itu, ngobrol sedikit, dan segera membereskan seluruh peralatannya. Ia mendapatkan sekitar 32 US$ hari itu.

Sedikit yang tahu, pemain biola tersebut adalah Joshua Bell, seorang virtuoso biola muda dan merupakan salah satu musisi terbaik dunia. Biola yang Ia gunakan adalah biola Stradivarius yang berusia 300-an tahun dengan harga 3.5 Juta US$ (sekitar 32.3 Miliar Rupiah.) Lagu yang Ia mainkan adalah salah satu komposisi biola paling sulit di muka bumi, tidak semua orang mampu memainkannya dengan baik.


Peristiwa diatas adalah bagian dari penelitian Washington Post dan menjadi headline di sekitar tahun 2007 dengan judul: "Pearls Before Breakfast." Artikel ini sontak menghebohkan dunia seni pada saat itu, karena beberapa malam sebelumnya ia memainkan komposisi yang sama di sebuah hall ternama di Boston. Dengan harga tiket 100 US$ per orang, tiket untuk acara tersebut sold out. Dua minggu sesudahnya Bell kembali mempertontonkan kemampuannya di sebuah pusat musik di Strathmore dengan penonton yang bersedia menikmati karyanya secara khusus dengan cara berdiri. Mereka begitu menghargai permainan Bell hingga bersedia untuk tidak duduk sepanjang pertunjukan dan bahkan menahan batuk mereka hingga Bell selesai memainkan seluruh komposisi.

Bagaimana mungkin sebuah seni sekelas itu bisa tidak digubris saat Bell memainkannya di stasiun kereta api bawah tanah??

Joshua Bell

Orang yang sama, biola yang sama, komposisi yang sama. Reaksi yang jauh berbeda. Washington Post menganggapnya sebagai fenomena sosial, masyarakat seni menyebutnya pengabaian karya seni ditengah deru modernisasi, marketer menyebutnya positioning, pengguna jasa subway saat itu mungkin menyebutnya gangguan.

Inilah kekuatan sebah context. Sebuah mahakarya musik (content) yang luar biasa bagus pun bisa jadi tidak berharga jika context-nya tidak sesuai. Di ranah social media context terbagi menjadi 5: Result, User, Brand, Timing, dan Forum. Mari kita bahas secara singkat:
_____________________________

1. Result

Buatlah content yang sesuai dengan hasil yang ingin Anda capai melalui social media. Anda ingin meningkatkan awareness? Sales? Atau loyalitas? Sesuaikan content Anda untuk tujuan tersebut.

Misalnya tujuan Anda untuk awareness. Maka asumsi saya disini adalah belum ada atau masih sedikit yang mengetahui brand Anda. Karenanya buatlah content yang sifatnya conversational atau yang bisa memancing percakapan. 


2. User

Siapa pelanggan kita? Siapa pengguna jasa kita? Buatlah content yang sesuai dengan segmentasi pasar yang akan Anda tuju. Tentunya gaya bahasa, penulisan, karakter anak-anak remaja beda dengan para professional. Content yang bagus itu biasanya tidak ditujukan untuk semua orang.

Seperti layaknya musik klasik. Tidak semua orang bisa menikmatinya. Namun untuk yang menyukainya, mereka rela berhenti sejenak dari aktifitas mereka dan menikmati permainan Joshua Bell.


3. Brand

Seperti apa karakter brand yang ingin Anda angkat ke social media? Tentunya karakter ini harus sesuai dengan segmentasi pasar yang Anda tuju.

DI social media brand Anda hidup, Ia bernafas, berbicara, berteman. Jangan paksakan diri untuk membuat content yang tidak sesuai dengan karakteristik brand Anda.

Bayangkan Joshua Bell yang sudah terkenal memainkan komposisi musik klasik harus memainkan lagu jazz, hasilnya belum tentu baik.


4. Timing

Waktu yang tepat untuk merilis content Anda akan sangat  menentukan perbedaan antara contet yang biasa dengan content luar biasa. 

Ingat kemarin saat pertandingan final sepakbola SEA Games? Twitter begitu riuh membicarakan pertandingan tersebut. Jika Anda berpromosi melalui Twitter pada saat pertandingan sedang memanas seperti itu tentunya dampaknya tidak akan optimal.

Mungkin jika Joshua Bell bermain disaat jam pulang kerja atau liburan, walaupun di stasiun bawah tanah, mungkin hasilnya akan berbeda dengan saat jam sibuk.
 
5. Forum

Forum atau saluran distribusi adalah alasan terbesar gagalnya pengunjung stasiun mengapresiasi permainan Joshua Bell diatas. Persepsi masyarakat tentunya musik seperti itu seharusnya dimainkan di hall atau gedung-gedung pertunjukan yang megah.

Sebuah content yang berhasil menggunakan layanan berbasis text seperti Blog belum tentu  menghasilkan dampak yang sama saat kita konversi ke Youtube.
Yang menjadi pembicaraan hangat di Twitter belum tentu ada yang memperhatikan di Facebook.

Pilih layanan social media yang paling sesuai untuk Anda bercerita mengenai bisnis Anda. Persepsi pasar Anda di dunia maya biasanya tidak merembet didunia nyata. Terserah Anda mau memasarkan produk Anda dari rumah, menggunakan kaos oblong, mengangkat kaki ke atas meja, tidak masalah. Selama persepsi yang Anda munculkan melalui social media itu baik, maka usaha kecil Anda akan terlihat besar dimata pasar Anda.

____________________________

"For me context is the key - from that comes the understanding of everything." - Kenneth Noland

 
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 comments:

Posting Komentar