FikryFatullah.com

Jadilah Fleksibel

Leave a Comment
Saat berada di ruang tunggu ICU di sebuah rumah sakit di Medan, saya melihat sekumpulan keluarga yang duduk beralas tikar di lantai karena kekurangan tempat duduk. Tidak berapa lama security rumah sakit mengatakan mereka tidak boleh menggelar tikar disini karena menyalahi peraturan. Tikar harus dititipkan di penitipan barang yang berada di lantai atas.


Tentu saja keluarga tersebut tidak terima, dengan tarif 7 juta per-malam, paling tidak mereka mengharapkan sedikit kelonggaran karena anggota keluarga mereka cukup banyak dan ada anak bayi. Namun sang satpam hanya menjalankan peraturan. 


Kalau boss rumah sakit itu ada disana, kemungkinan besar ia akan mengizinkan keluarga tersebut untuk duduk di lantai dengan tikar. Namun bossnya tidak ada disana.



Dilain kesempatan, teman saya pernah bercerita tentang jasa sebuah maskapai penerbangan yang ia gunakan. Ia datang terlalu cepat ke bandara, pesawat yang akan ia tumpangi baru akan berangkat 5 jam kemudian. Ia tahu penerbangan yang berangkat ke Medan (tujuan yang sama dengan penerbangan yang ia tunggu selama 5 jam) terbang dalam 30 menit lagi. Ia tahu pesawat itu banyak kursi kosong dari salah seorang temannya yang berprofesi sebagai pramugari. Ia mendatangi petugas maskapai dan meminta untuk ikut dalam penerbangan yang berangkat kurang dari 30 menit lagi tersebut. 


Pihak maskapai menolak, akhirnya teman saya harus menunggu 5 jam sebelum akhirnya ia pulang. Padahal penerbangan sebelumnya banyak kursi kosong, sesuai dengan informasi sang pramugari. Namun bagaimana lagi? Sang petugas maskapai hanya menjalankan peraturan.


Kalau boss maskapai itu ada disana, kemungkinan besar ia akan mengizinkan teman saya untuk terbang lebih awal. Namun bossnya tidak ada disana.


Dua kasus diatas adalah masalah dari perusahaan besar yang kita jumpai sehari-hari. Birokrasi, permintaan sederhana konsumen yang tidak terpenuhi, dan karyawan yang sedang mengalami nasib sial. Padahal jika rumah sakit mengizinkan keluarga itu untuk duduk dengan tikar, tentunya keluarga itu akan lebih nyaman karena bisa selonjoran. Demikian juga dengan teman saya, kalau pihak maskapai mengizinkan ia terbang lebih awal, tentunya ia akan terus terbang dengan maskapai yang sama dan akan merekomendasikan maskapai itu ke semua orang yang akan terbang. 


Kenyataan lebih pahit adalah banyak UKM dan bisnis dengan skala yang lebih kecil atau baru saja berdiri, mulai berprilaku seperti ini. Padahal UKM dapat mengandalkan fleksibilitas mereka untuk bersaing secara gesit dengan perusahaan yang lebih besar dan gemuk. Bukan artinya tidak ada aturan, namun menyesuaikan atau memberi toleransi selama bisa menghasilkan sales dan layanan yang lebih baik. Bukan juga artinya konsumen selalu benar, namun jika kita bisa memberikan sedikit lebih kenapa tidak?


Teman saya bilang: "Marketing is conversation." Atau marketing adalah percakapan. Bukan! Menurut saya marketing adalah seni MEMULAI percakapan. 


Memberikan sesuatu hal untuk konsumen kita membicarakan kita. Mungkin sampai akhir hayatnya. Namun sering kali nilai yang bertahan seumur hidup seperti ini hilang karena kasus-kasus kecil dan penegakan peraturan secara konyol dalam perusahaan.


Bisnis membutuhkan pemasaran dari mulut ke mulut. Konsumen membutuhkan sesuatu untuk mereka agar membicarakan bisnis Anda, sesuatu yang seru, tulus, sedikit nakal, keluar konteks, tidak biasa, dan menimbulkan perasaan hanya mereka yang pernah melakukan itu, bukan orang lain. Toh Anda dapat kembali menerapkan peraturan dengan ketat kapan saja, yang penting ceritanya sudah menyebar.



Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 comments:

Posting Komentar