FikryFatullah.com

Hijrah Ke Linux: Sebuah Catatan

9 comments
Linux si Pingguin
Ilustrasi: opencage.info

Suatu hari, tiba-tiba saja muncul pemikiran: "Kalau kerja dengan menggunakan aplikasi bajakan, kerjanya barokah apa engga?"


Hampir semua pekerjaan saya, saya lakukan dengan sistem operasi berbasis Windows bajakan. Sistem operasinya bajakan tentunya aplikasi yang saya gunakan hampir semuanya juga bajakan. Bajakan = nyolong alias mencuri. 90% kerjaan menggunakan komputer. Berarti 90% hasil pekerjaan juga dari hasil nyolong donk?


Perasaan resah mulai menghantui sejak saat itu, saya pun perlahan-lahan mulai menghapus aplikasi bajakan dari komputer dan laptop saya dan mulai mempelajari aplikasi gratis dan open source. Microsoft Office saya ganti dengan Libreoffice, Adobe Photoshop berganti dengan Gimp, dll.
Hingga suatu saat, yang tersisa hanya tinggal sistem operasi Windows 7 bajakan yang saya gunakan.


Ganti jadi Macbook? Errr.. No! Mahal ah.


Akhirnya pilihan jatuh ke salah satu distro Linux yang populer: Ubuntu. Walaupun buta sama sekali tentang Linux, namun hati ini sudah bulat. Dengan semangat membara saya mem-backup semua data saya. Kebetulan dalam beberapa hari lagi, Ubuntu akan merilis versi terbaru saat itu: 11.04. Pas!


Data aman! Install Ubuntu selesai! Kesan pertama: tampilannya bagus. Namun masalah pertama muncul: koneksi internet! Saya sama sekali hilang arah, tidak tahu caranya. Kenapa modem saya tidak muncul? Dialer internetnya mana? Panik! Masalah semakin banyak karena teman-teman pengguna Linux banyak yang memanfaatkannya untuk server, bukan untuk pengaplikasian bisnis seperti saya. Jadi seringkali aplikasi spesifik bisnis mereka tidak tahu karena memang tidak pernah mereka gunakan. 


Namun akhirnya satu-persatu masalah berhasil saya selesaikan. Beberapa distro Linux lain seperti Debian, Fedora, Crunchbang, Jolicloud, Peppermint, dan banyak lagi. Semua saya coba demi mendapatkan sistem operasi Linux yang paling mudah, stabil, dan bisa saya gunakan untuk pekerjaan sehari-hari.


Fast forward setahun kemudian. Kini saya sudah berganti menggunakan Linux Mint baik di komputer rumah maupun di Netbook saya. Semakin hari, semakin saya kagum betapa sistem operasi gratis dengan semua aplikasi (yang juga gratis) didalamnya ini bisa bekerja begitu baik, cepat, dan stabil. Oh iya, Linux juga tidak ada virus.

Linux Mint 13 Maya
Linux Mint 13: Maya.

Kini hati tenang. Tidak ada aplikasi bajakan lagi yang saya gunakan, sama sekali. Linux Mint punya semua aplikasi alternatif pengganti aplikasi berbasis Windows yang dulu saya gunakan.


Silahkan bilang pilihan saya ini lebay, idealis, naif, mempersulit diri sendiri, terserah. 


Indonesia mengkonsumsi banyak sekali produk bajakan. Mudah sekali mendapatkan aplikasi bernilai puluhan juta seperti Photoshop dan Nuendo dengan harga hanya 30 ribuan disini. Tapi kita melihat sendiri, Indonesia tidak lebih maju dari negara-negara yang harus membeli untuk mendapatkan aplikasi-aplikasi tersebut. Negara-negara yang tingkat pembajakannya minim seperti di Amerika.


Dulu saat masih main musik, saya pernah ngobrol dengan teman di Amerika yang mau membangun studio rumahan. Hampir 3/4 budget studio itu (yang mencapai 60 juta Rupiah) habis untuk membeli aplikasi atau software untuk merekam dan mengedit audio. Itu artinya 45 juta sudah habis untuk beli software. Lebih mahal daripada belanja peralatan rekaman dan peredam suara digabungkan. Bandingkan dengan di Indonesia dimana belanja software tidak pernah masuk hitungan. Studio rekaman disini mewah-mewah namun berisi aplikasi bajakan. Kita bisa mendapat semua aplikasi yang kita mau. Hasil rekaman kita lebih baik? Belum tentu!


Hal yang sama kini saya temui di dunia bisnis. Gampang sekali seseorang membuat perusahaan, menyewa kantor, dan mengisi komputer kantor tersebut dengan sistem operasi bajakan. Pembicara seminar, motivator, bisa dengan bangganya berdiri didepan panggung, mempresentasikan materinya menggunakan aplikasi Power Point versi terbaru yang ia beli di toko CD bajakan yang ada di Mall. "Sudah lumrah" kata teman saya. 


Sesuatu yang jadi populer tidak membuatnya menjadi benar. Menggunakan produk bajakan memang populer di masyarakat, namun tidak membuatnya menjadi halal. Membajak itu mencuri. Titik. Fakta itu tidak akan berubah walaupun ulama yang menggunakan produk bajakan tersebut.


"Aplikasi di Linux engga bisa bekerja sebaik aplikasi Windows atau Mac Fik. Gimp tidak sebagus Photoshop."


Nah, ini juga jawaban lumrah. Satu hal yang saya pelajari dari 12 tahun pengalaman saya main musik adalah: tidak ada hubungan antara kreativitas dengan peralatan. Tidak ada. 


Beri Tiger Wood stik golf murahan, coba kalahkan dia kalau Anda bisa. Beri Roger Federer raket tenis 50 ribuan, ia akan tetap menghancurkan Anda. Christoper Nolan menggunakan efek CGI yang minim sekali, tidak ada film The Dark Knight 3D, tapi film itu tetap megah. Beri Ronaldo sendal jepit. Anda sudah pahamkan maksudnya?


Eddie Van Halen bilang: "It's in your finggers" saat ditanya apa rahasia permainan gitarnya.


Memang Photoshop jauh lebih bagus daripada Gimp, semua orang pasti setuju. Namun ini bukan soal peralatan apa yang Anda gunakan, tapi bagaimana keahlian dan hasil karya Anda. Meminjam kata-kata Ustad Felix Siauw: "ibu dari segala keahlian adalah pengulangan (repetisi) dan ayahnya adalah latihan (practice.)" Pengulangan dan latihan, bukan peralatan.


Lupakan hukum, siapa perduli. Lupakan pengguna aplikasi bajakan yang begitu besar, jumlah itu tidak akan bisa saya kendalikan. Ini tanggung jawab saya dengan Allah demi mengharap Ridho-Nya. Tanggung jawab saya dengan anak dan istri saya untuk membiasakan anak saya melakukan apa yang benar nantinya, setidakpopuler apapun itu. Akan lebih mudah untuknya melakukannya jika lingkungannya (abi dan ummi-nya) juga ikut latihan melakukan yang benar. 


Menggunakan Linux tidak sulit, HIJRAH karena itu hal yang benar, itu yang sulit. Semua kembali kepada kemauan kita. Motivasi hanya akan bertahan sesaat bila tidak segera Anda latih. 


Hal ini terkesan sepele. Namun terknologi sekarang seperti udara, kita tidak sadar sudah menggunakannya setiap saat. Udara yang sehatkah yang Anda hirup?


Adalah kewajiban saya untuk mengingatkan melalui blog post ini, bukan memaksakan. Hidayah itu milik Allah dan akan turun atas seizin-Nya kepada siapapun yang Ia kehendaki. Pilihan ditangan Anda.

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

9 komentar:

  1. Haa, setuju kali aku kalau kita harus membiasakan yang benar (dan bukan membenarkan yang biasa)..

    Aku juga pakai Gimp gak jauh beda hasilnya dengan pakai Photoshop, wong cuma crop, resize, auto-contrast, auto-level (white balance). Sudah :))

    Tapi aku masih punya Windows, walau sudah lupa untuk apa dipertahankan.

    *komentar ini ditulis pakai Ubuntu yang kemarin sukses diinstall via flashdrive atas usulan Anda*

    BalasHapus
  2. @Nich Makasih dukungannya bang Nich, hapus sajalah Windows itu :D

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Salam kenal Abangda, sesama Muhajirin ( Orang yg ber-hijrah ) ke dunia non-Bajakan. walaupun awal nya sangat beraaaatttt,.. sekaliii,.. hehehee :D
    boleh ya kapan - kapan awak belajar sama Abang. :)

    BalasHapus
  5. @roniafrizal Alhamdulillah silaturahim dgn sesama Muhajirin. Saya juga masih ngeraba2 dalam kegelapan mas :D

    BalasHapus
  6. Alhamdulillah dulu sempet dual OS, dan sekarang sudah pure linux. ane pake linux mint 13 dulu sempet pake yang 12.
    :)

    BalasHapus
  7. Salah satu distribusi paling sukses dari virus,trojan malare dsb adalah melalui software bajakan!
    Jadi kepikiran juga ni buat hijrah

    BalasHapus