FikryFatullah.com

Tentang Jadi Pengusaha VS Karyawan

Leave a Comment


Sebenernya saya rada ga suka bahas apakah seseorang itu harus jadi pengusaha atau stay jadi karyawan. Saya penganut golongan yang penting halal dulu. Terserah mau jadi apa yang penting halal.

Namun beberapa tahun ini lingkungan saya penuh dengan motivator, inspirator, atau yang katanya provokator bisnis, atau apapun istilahnya.

Dan puncaknya adalah saya menulis buku BOM: Bisnis Online Milyaran dengan @MotivaTweet yang memang kerjaannya ngomporing orang untuk berbisnis dan sering menggunakan hashtag #UdahResignAja.

Motty menurut saya adalah seseorang yang sangat cerdas dan kreatif. Namun memang saya berbeda pendapat di masalah ini dengannya. Tapi saya memilih membiarkan agar melengkapi.

Jangan salah juga, seperti Motty, saya sangat menghormati motivator, inspirator, dan provokator ini selama mereka “bener”. Artinya memang banyak bukti di lapangan yang jadi pengusaha beneran karena dipicu oleh dorongan mereka.

Yang tidak saya setujui adalah membandingkan A dengan B, karyawan dengan pengusaha, bukan karena alasan Indonesia kekurangan pengusaha atau apa, tapi karena alasan yang akan kita bahas di artikel ini.

Dari dulu Saya memilih banyak diam terkait ini. Seperti yang saya katakan diatas, saya lebih concern ke halal haram daripada ke status karyawan dan pengusaha. Yang terakhir ini buat saya pilihan saja.

Menurut saya menyuruh semua orang menjadi pengusaha adalah konyol dan mengatakan: “kalau semua orang jadi pengusaha, nanti yang jadi karyawan siapa?” Adalah pembenaran yang sama menggelikannya.

Agar sepemahaman, ada baiknya saya definisikan dengan singkat beberapa hal yang akan saya bahas.



Karyawan




Menurut saya karyawan titik beratnya adalah Ia punya waktu untuk mengerjakan sesuatu yang dibutuhkan untuk menjalankan sebuah perusahaan. Kalaupun skill-nya kurang, biasanya perusahaan akan melakukan training atau pelatihan untuk karyawannya secara berkala. Yang penting waktunya ada. Kalau lembur, perusahaan akan membayar kelebihan waktunya.



Self-employed




Selain karyawan dan pengusaha, tentunya ada orang-orang yang ditengah. Self-employed adalah orang yang dibayar untuk skill yang Ia miliki. Contoh: designer dibayar untuk mendesain. Konsultan dibayar untuk sesi konsultasi, dll. Walaupun beberapa konsultan yang saya kenal dibayar berdasarkan waktunya (per jam), namun yang membuat waktunya berharga adalah skill dan pengalaman yang Ia miliki.



Pengusaha




Pengusaha adalah orang yang meng-orkestrasi waktu, skill, dan uang orang lain dan mengelola resiko dalam menjalankan ketiganya untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai bagi masyarakat.

Catatan: Ketiga definisi diatas ini hanya hasil temuan saya di lapangan aja, kalau Anda ingin definisi yang bener silahkan mengacu kepada literatur yang bener. Saya menulis diatas untuk menyampaikan point-point yang lebih penting yang ada dibawah ini.

Nah, kenapa saya tidak begitu mempermasalahkan tentang karyawan, pengusaha, ataupun freelance?

Jawaban saya: karena Internet akan membuat kabur ketiga golongan diatas.

Anda ingin jadi pengusaha agar bebas mengatur waktu Anda? Sekarang jadi karyawan juga bisa bekerja dari rumah atau dari mana saja.

Saya pernah menulis mengenai kerja darimana saja, ditengah banjir, dan meyelesaikan buku BOM tanpa bertatap muka.

Klik disini untuk membaca cerita tentang bekerja ditengah banjir Jakarta.

Klik disini untuk membaca tentang bekerja dari rumah atau dari mana saja.

Anda memiliki skill dan ingin jadi duit? Anda bisa dapet client dari seluruh dunia saat ini tanpa harus berurusan dengan birokrasi perusahaan client.

Anda seorang pengusaha? Kini Anda bisa mempekerjakan bakat-bakat terbaik dengan skill yang mumpuni di kota manapun, tanpa harus ketemuan. Bahkan beberapa orang guru saya bisnisnya berjalan tanpa karyawan, namun lebih banyak menggunakan tools atau aplikasi online.

Saat profesi Anda sangat menitikberatkan pada penggunaan internet, maka ketiga hal diatas bisa jadi tidak relevan lagi.

Saya ambil contoh.



Sekitar tahun 2012 yang lalu saat saya baru tiba di Bandung, saya langsung mencari komunitas-komunitas pebisnis online di Bandung. Setelah mengikuti beberapa acara kopdar dan gathering, saya berkenalan dengan seorang Ibu muda, namanya Dian.

Dian hampir 8 tahun berkarir di dunia jurnalistik dan penulisan, pernah bekerja di beberapa koran dan majalah di Jakarta sebelum akhirnya pindah ke Bandung karena ikut suami. Saat itu perusahaan tempatnya bekerja tidak rela Ia keluar dan mengizinkannya untuk bekerja dari Bandung secara remote.

Ibu satu anak ini akhirnya memutuskan berhenti bekerja karena anak gadisnya saat itu memiliki penyakit dan harus bolak balik ke rumah sakit (Alhamdulillah saat ketemuan sudah sembuh).

Setelah sang anak mulai sehat, Rasa ingin menulis Dian muncul lagi. Ia lalu melanjutkan blog-nya yang hampir mati, lalu mulai menjadi kontributor di berbagai website berita melalui kenalannya yang cukup banyak di media.

Dian lalu mulai serius menjadi freelancer untuk menulis konten baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Ia kebanjiran job sampai menolak beberapa tawaran ghost writing yang cukup potensial saat itu.

Sampai suatu ketika ia menerima email yang menawarkan Dian untuk menjadi kontributor sebuah blog tentang parenting yang cukup besar dari Amerika.

Perasaan tidak enak mulai menyelimuti hatinya karena Ia mulai merasa terlalu sering menolak Job, dan penawaran menjadi blogger full time ini adalah rekomendasi teman dekatnya yang sekarang berada di Amerika. Belum lagi saat memberikan job penulisan ke orang lain, hasilnya beberapa kali tidak memuaskan client.

Akhirnya ia menerima pekerjaan itu, selain Ia menyukai dunia parenting, namun juga gaji yang ditawarkan blog itu cukup besar: 5000an US$ perbulannya. Untuk Dian , itu angka yang besar sekali dan bisa banyak membantu keluarganya.

Namun ia tidak meninggalkan pekerjaan freelance menulisnya yang lama, akhirnya sambil menjadi blogger professional, Ia membangun tim yang terdiri dari freelancer yang berada di 3 negara untuk menjalankan job-job yang masih terus berdatangan diluar pekerjaan utamanya. Di titik ini, Dian jadi karyawan dan jadi pengusaha pada saat bersamaan.

Setelah setahun, Ia memutuskan untuk berhenti menjadi blogger full-time dan terjun menjadi pebisnis online full-time dengan membeli sebuah blog yang cukup besar yang bertema anak dan bayi. Saat ini Dian sudah memiliki dan mengelola beberapa blog berbahasa Inggris, dengan tim berjumlah 4 orang (tidak termasuk Dian) yang berbasis di Indonesia, Singapura, dan India. Dari 4 orang tersebut hanya 1 orang di Indonesia yang Ia gaji bulanan, sisanya freelance.

Pendapatannya saat ini sudah 3 kali jumlah pendapatan suaminya yang berasal dari Iklan, affiliate, dan sponsor, dan penawaran joint venture. Dan kabar gembiranya lagi, semua Dian lakukan tanpa harus keluar rumah dan meninggalkan anak gadis kesayangannya.





Apa yang terjadi disini?


Saat Dian jadi karyawan, Ia bisa bekerja dari Bandung sambil ikut suaminya, waktunya bebas, saat Ia jadi Freelance ia bisa membantu client darimana saja, saat Ia memiliki bisnis, Ia bisa menjalankannya tanpa karyawan yang tetap yang bisa bekerja dimanapun, tanpa kantor.

Artinya, 2-3 tahun belakangan dalam hidup Dian habis untuk bekerja secara remote, atau jarak jauh. Statusnya saja yang berubah dari karyawan, ke freelance, ke business owner.

Seperti yang saya katakan diatas, status karyawan dan pengusaha sudah blur, dan kedepannya menurut saya akan semakin tidak penting lagi. Teknologi cepat atau lambat akan mengubah cara kita bekerja (dan mempekerjakan).

Kedepannya, karyawan akan semakin bebas memilih mau bekerja jam berapa, dan darimanapun mereka mau, selama pekerjaannya selesai. Kelebihannya tentu banyak:

  • Karyawan bisa lebih bahagia.
  • Tidak harus macet-macetan ke kantor.
  • Bisa memiliki hidup yang lebih berkualitas bersama keluarga dan teman-teman.
  • Dll.

Saat ini sudah beberapa bulan saya mempraktekkannya di YukBisnis dan masih terus mempelajari cara-cara terbaik me-manage orang-orang yang bekerja secara remote.

Saya pernah mengatakannya dan saya akan terus mengatakannya:

Bekerja secara remote tidak bisa untuk semua orang dan semua profesi…

Namun bukan berarti juga semua orang harus bekerja di kantor pada jam yang sama dan pulang pada saat yang sama…

Buat saya sama saja seperti tidak semua orang bisa menjadi sopir Uber karena tidak punya mobil (atau tidak bisa nyetir). Tentu saja pekerjaan seperti teknisi, tukang bersih-bersih, engineer, tidak bisa bekerja secara remote.

Namun saya yakin sebagian besar karyawan di perusahaan manapun, terutama bagian administrasi dan keuangan, bisa bekerja dari rumah mereka.

Saat saya melempar ide ini di Facebook, beberapa orang mengatakan ini berbahaya, karyawan tidak bisa di manage, nanti mencuri waktu, biaya untuk switching dari lingkungan kerja sekarang, ke lingkungan kerja remote itu besar, dll.

Menurut saya, sama bahayanya dengan membiarkan kondisi sekarang kalau dipaksakan tidak remote, karyawan habis duit dan waktunya kejebak macet, polusi atau jejak karbon yang ditinggalkan sangat besar, anak-anak bertahun-tahun sulit bertemu orang tuanya, penggunaan listrik dan sumberdaya lain di kantor besar, dll.

Untuk masalah mengontrol karyawan saya memetik kata-katanya Peter Drucker:

“What gets measured, gets managed.”

Atau terjemahan tarzan-nya: apa yang bisa di ukur akan bisa di atur. Menurut saya yang takut karyawannya mencuri waktu itu sebagian besar karena tidak mengetahui bagaimana mengukur kinerja karyawannya. Sehingga tidak tahu mengaturnya harus seperti apa.

Di sisi lain, bagi pemilik bisnis, bisa mempekerjakan orang lain secara remote artinya juga bisa mendapatkan bakat-bakat terbaik di seluruh Indonesia (atau dunia), tanpa harus menyuruh mereka datang ke lokasi bisnis kita yang mungkin lokasinya jauh.



Sudut Pandang Baru


Menurut saya, daripada memilih mau jadi karyawan, freelancer ataupun pebisnis, intinya adalah tujuan kita dulu mau apa.

Bisnis menurut saya hanya kendaraan. Karenanya kalaupun bisnis saya bangkrut (na’udzubillah) saya tetap tidak akan mengubah tujuan saya, tapi saya akan mencari kendaraan baru.

Contohnya, dulu teman SMA saya Arief ingin sekali keliling dunia, karenanya dia ingin jadi pengusaha agar bisa meninggalkan bisnisnya keliling dunia. Saya tanya: kenapa harus punya bisnis dulu baru keliling dunia? Itu ada pertukaran pelajar (sambil saya tunjuk poster yang menempel di dinding sekolah).

Akhirnya benar, ia mengambil kesempatan pertukaran pelajar dan tiba di Korea Selatan beberapa bulan kemudian. Setelah lulus SMA, mindset Arief sudah berubah, Ia ingin keliling dunia, untuk urusan pendapatan sehari-hari, Ia tidak begitu perduli bagaimana caranya selama halal.

Akhirnya Arief menjadi Volunteer di kedutaan besar Indonesia, dan saat ini sudah mengunjungi 17 negara. Dari foto-foto Instagram-nya saya bisa menilai kalau tujuan Arief di masa SMA nya dulu sudah tercapai.



Bangkitnya Pebisnis Model Baru




Internet dan perkembangan teknologi pun mulai melahirkan “peranakan” baru di dunia entrepreneur. Yaitu Solopreneur. Artinya orang-orang yang memulai dan menjalankan bisnisnya sendirian.

Tim marketing dan sales berganti dashboard layanan advertising.

Komisi dan bonus penjualan berganti menjadi komisi affiliate marketing.

Karyawan berubah menjadi tin freelancer yang tersebar di seluruh dunia dan di bayar per projek. Hemat.

Entrepreneur yang dulu erat kaitannya dengan leadership yang tinggi, bisa memotivasi tim, dll, perlahan-lahan berubah menjadi pengusaha yang lihai membaca data dan menggunakan aplikasi-aplikasi canggih, serta piawai berkomunikasi dan negosiasi via layanan messenger seperti Skype.

Ini sedang terjadi dimana-mana bahkan di Indonesia, guru saya menghasilkan jutaan dolar per tahun dengan 2 orang tim freelance dan beberapa aplikasi online.

Semakin besar perusahaan Anda, pekerja remote Anda juga bisa ikut membesar. Anda ingin karyawan tetap namun remote? Bisa juga.

Klik disini untuk mengetahui bagaimana Automattic (perusahaan yang membuat Wordpress) bekerja dengan 190 karyawan tersebar di 141 kota lebih.

Apa tujuan Anda?


Seperti yang saya katakan diatas, pada akhirnya, apapun profesi Anda, semua kembali ke satu hal: tujuan Anda menjalankannya.

Bisa saja ingin meng-Haji kan orang tua, punya mobil sport, punya rumah, menikah, menyekolahkan anak ke luar negri. Apa saja, yang penting Anda punya goal yang jelas.

Saya sendiri memiliki ambisi pribadi yang belum tercapai sampai saat ini. Namun apakah bisnis saya saat ini yang akan membawa saya kesana? Mungkin, saya tidak tahu.

Yang jelas saya akan memilih kendaraan (bisnis) yang tidak menghalangi saya beribadah, bisa dekat dengan keluarga, dan bisa saya kerjakan di waktu yang saya inginkan.

Saat ini di Facebook saya sudah banyak sekali teman-teman saya membuka lowongan yang tidak memperdulikan latar belakang pendidikan karyawannya. Selama pekerjaannya selesai sesuai jadwal, karyawan tersebut bisa bekerja dari mana saja, kapan saja. Dan kedepannya saya yakin ini akan semakin menjadi trend.

Guru saya, Mas Jaya Setiabudi pernah berkata kepada saya:

“Selama kamu punya skill, jaringan, dan nama baik, kamu akan bisa hidup dimana aja…”

Saya sangat setuju. Bukan status atau latar belakang pendidikan Anda yang dibutuhkan oleh dunia, tapi siapa Anda dan Anda bisa apa?



Tantangan Baru


Tentu saja teknologi tidak hanya menghadirkan kemudahan-kemudahan namun juga tantangan-tantangan baru. Tentu saja menjadi karyawan, freelance, dan business owner tantangannya berbeda-beda walaupun batasannya sudah dikaburkan oleh teknologi.

Sebagai karyawan Anda tetap akan diberikan target oleh perusahaan Anda yang harus Anda penuhi, Kerja overtime semakin tidak bisa dibedakan, dan tantangan-tantangan lainnya.

Sebagai freelance Anda semakin mudah untuk digantikan oleh freelance lain, karenanya kemampuan Anda mengelola client sangat dituntut untuk memberikan yang terbaik.

Sebagai pengusaha, teknologi berkembang cepat, Anda tidak bisa lagi hanya mempercayakan tim dan menutup mata dengan hal-hal teknis, Anda harus sangat peka dengan apa yang terjadi.

Dulu adalah hal biasa pemilik rumah makan tidak bisa masak. Pengusaha pakaian tidak bisa menjahit. Namun, jika kita perhatikan perusahaan-perusahaan terbesar di dunia saat ini CEO nya merupakan orang-orang yang sangat memahami produk yang mereka jual, dan bahkan membuatnya sendiri.

Lihat saja Larry Page dan Mark Zuckerberg keduanya merupakan programmer yang handal.

Semakin Banyak Pilihan


Cara-cara lama akan selalu ada. Akan ada orang yang terus nyaman bermacet-macetan ke kantor, Akan ada pengusaha makanan yang tidak tahu masak, pengusaha pakaian yang tidak tahu menjahit.

Namun sekarang pilihannya sudah bertambah, Anda tidak perlu mengikuti cara-cara lama, kalaupun mau ya terserah, itu pilihan.

Maaf tulisan ini jadi sangat panjang…

Masih mau perduli apa kata orang tentang menjadi pengusaha vs jadi karyawan?

Saya tinggalkan Anda dengan video cara perusahaan yang bernama Basecamp (dulu 37 Signals) bekerja secara remote.



Yuk ngobrol dengan saya di Twitter.
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 comments:

Posting Komentar