FikryFatullah.com

Untuk Trainer: Promosi Menggunakan Buku Atau Blog?

Leave a Comment
Beberapa waktu yang lalu saat di Depok, saya sempat bersilaturahim dengan teman lama saya yang saat ini menjadi seorang trainer SDM di beberapa perusahaan besar di Indonesia.

Saya perhatikan dalam beberapa tahun, namanya semakin dikenal dan job untuk training nya makin banyak, namun ia masih menyempatkan diri untuk menemui saya. Obrolan kami pun berkembang dari mulai makanan enak di Bogor (karena setelah dari Depok kemarin rencananya saya langsung bermalam di Bogor), membahas NLP, hingga mempromosikan bisnis online.

Bisnis jasa, terutama pelatihan atau training SDM menurut saya merupakan bisnis yang cukup menantang untuk dipasarkan, namun teman saya ini berhasil menjual jasa-jasa pelatihannya sendirian, alias solo, semua memanfaatkan teknologi yang ada di internet.

Catatan: teman saya mengizinkan saya menulis cerita ini namun meminta saya untuk merahasiakan identitas-nya dan semua client-nya. Hal ini karena beberapa orang sudah meniru plek, alias copy-paste cara-cara marketing beliau, dan mulai mengambil beberapa client potensialnya. Walaupun rezeki sudah diatur sama Allah, namun menjaga kerahasiaan bisnis tidak dilarang dalam Islam, akhirnya saya menyetujui dan menghargai keputusannya. Dari sini kita panggil saja namanya Abdul.

Jadi bagaimana orang yang 1.5 tahun yang lalu masih belum dikenal dan belum memiliki jaringan ke mana-mana bisa menjadi trainer di belasan perusahaan nasional?

Jawabannya: dengan menjadi penulis.

Bukan sembarangan penulis, namun menjadi penulis yang konsisten.

Awalnya ia terinspirasi dari beberapa orang trainer senior yang tekun meng-update blog mereka. Dari situ Abdul pun memutuskan untuk menulis blog, dengan cepat ia menemukan “dunia”nya, Abdul baru sadar kalau ternyata Ia sangat suka menulis.

Setelah 2-3 bulan rutin menulis blog, Abdul pun mulai memikirkan secara serius tentang dunia barunya ini. Ia sempat tertarik menghasilkan uang dari blog-nya dengan iklan dari Adsense, dll, tapi tidak berapa lama memutuskan sepertinya iklan bukan cara yang tepat untuk menghasilkan uang dari blog pribadinya. Akhirnya Ia membuat blog yang baru khusus untuk eksperimen Adsense ini, dan kembali membuat blog pibadinya bebas dari iklan.

Saat ini ada beberapa blog yang ia kelola, dengan berbagai tema, hampir semua mengarah ke blog pribadinya.

Tapi itu lain cerita, saat ini kita akan fokus membahas bagaimana blog-nya Abdul bisa membuka jaringan ke perusahaan-perusahaan besar dan membuatnya kebanjiran job untuk training.

Setelah beberapa bulan, Abdul menyadari pengunjung yang datang ke blog-nya (walaupun meningkat terus setiap bulan) masih belum berada di angka yang Ia mau. Akhirnya ia mulai mencari website yang ramai dikunjungi dan mulai menulis disana. Ia lalu mulai menulis di Kaskus, Kompasiana, dan beberapa forum dan website lain. Sempat ada satu artikel yang lumayan menjadi viral, namun keesokan harinya, pengujung blog-nya kembali lagi seperti tidak ada kejadian apa-apa.

Saat ini Abdul mulai merasa kehilangan arah. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi mendatangkan pengunjung ke blog-nya.

Sampai suatu ketika Abdul melihat statistik di blog-nya. Saat itu ada satu artikel yang hampir tiap hari mendatangkan pembaca, baik itu dari Google, maupun dari referensi orang di social media. Artikel tersebut sebenarnya tidak spesial, namun yang baru Ia sadari adalah, artikel itu berisi satu solusi yang menjadi masalah target pasarnya: masalah produktivitas karyawan.

Ia sadar, dunia SDM dan pengembangan diri itu luas sekali, jika ia berusaha menulis semua topiknya, bukan saja ia akan kewalahan, namun pengunjung yang datang juga tidak fokus. Setelah Googling sana-sini Ia menemukan pola yang sama di perusahaan-perusahaan trainer dan motivator di Indonesia: banyak artikel membahas topik yang sama namun mendalam dan dengan sudut pandang yang berbeda-beda.

Acuannya saat itu adalah Kubik Leadership.

Dari situ tulisannya mulai fokus, hampir tiap hari artikelnya berisi tema yang senada. Hingga suatu saat, ada SMS singgah di HP-nya. SMS tersebut dari sebuah perusahaan telkomunikasi di Indonesia. Training-nya mungkin kecil, bukan skala kolosal dengan kapasitas 3000 orang, bukan. Pesertanya cuma 18 orang. Namun 18 orang ini sudah membuat Abdul semakin yakin akan satu hal: blog adalah sarana “jual diri” atau membangun personal brand yang bagus sekali.

Beberapa client kemudian, Abdul menyadari ada sesuatu yang kurang. Setiap kali ketemu orang yang belum kenal dengannya, Ia kesulitan menjelaskan tentang blog-nya. Disitulah Ia mulai membeli domain sendiri berakhiran .com untuk blog-nya. Namun ternyata masih sulit juga. Akhirnya Ia menyadari, hal ini karena tulisannya tidak berbentuk fisik. Ia sulit menggambarkan karyanya didunia nyata, karena tulisannya ada di dunia maya.

Akhirnya Ia menyadari kalau buku adalah kartu nama terbaik. Namun Abdul bingung, bagaimana Ia akan menulis dan menerbitkan buku? Ia tidak kenal dengan penerbit dan Ia tidak ada waktu untuk menulis. Blog-nya juga mulai tidak update serutin dulu. Ini semua karena Ia mulai sibuk dengan jadwal training-nya.

Tiba-tiba di ruang tunggu sebuah perusahaan, Abdul membaca blog dan iklan buku-nya Seth Godin. Disitu ia menyadari, Seth Godin beberapa kali merilis buku berdasarkan artikel-artikel populer di blog-nya. Setelah Ia meneliti lebih jauh, banyak sekali ternyata penulis yang melakukan hal yang sama, di Indonesia contohnya Raditya Dika, Yuswohady (konsultan pemasaran), dan Rony Yuzirman (pendiri TDA). Ia langsung ke Gramedia dan membeli beberapa buku yang berasal dari Blog. Kemudian mempelajari caranya dengan membandingkannya ke blog masing-masing penulis tersebut.

2 hari setelahnya, Ia mengumpulkan puluhan artikel blog populer dari blog-nya dan langsung menghubungi beberapa penerbit yang sudah Ia miliki kontaknya. Tentu saja beberapa orang langsung minta dikirimkan naskah, namun Abdul tetap mencari penerbit yang bisa Ia jumpai secara langsung. Dan akhirnya ketemu.

Ia langsung mempresentasikan data pengunjung artikel populer di blog-nya, target pasarnya siapa, judul bukunya apa, bahkan sampai desain cover-nya. Dia yakin bukunya akan banyak yang baca. Beberapa hari kemudian Ia ditelepon dan naskahnya (yang tidak diketik lagi, karena tinggal copy dari artikel blog yang sudah tayang) diterima. Dalam beberapa minggu, bukunya sudah ada di beberapa toko buku besar di Indonesia.

Dari cerita diatas, Abdul menyimpulkan beberapa hal ke saya mengenai beberapa eksperimennya menjual jasanya sebagai trainer, sekaligus membangun personal brand dengan cepat:



  1. Artikel blog menyebar lebih cepat, namun buku berdampak lebih dalam. Artinya artikel blog bisa dengan cepat dibaca oleh ratusan orang dalam sehari, namun secara emosional artikel blog akan kalah dengan buku, apalagi saat diberikan secara langsung oleh penulisnya. Karenanya, saat pertama kali bertemu dengan client, Abdul selalu membawa buku sebagai “kartu nama”. Dan sejak Ia memberikan buku, hampir setiap pertemuan berujung pada kerjasama bisnis. Berbeda dengan dulu saat Ia hanya menulis blog, “mungkin hanya setengahnya yang berlanjut jadi kerjasama bisnis mas, sisanya banyak yang ga menghubungi lagi, lupa mungkin ya, hahaha” katanya.
  2. Kesan pertama bisa di “desain” dengan blog, namun buku lebih bikin “ngangenin.” Melalui artikel blog, Anda bisa memperlihatkan bukti skill dan kredibilitas Anda. Dengan artikel blog Anda bisa menunjukkan ke pembaca seberapa paham Anda memahami suatu topik. Abdul menyadari hal ini. Karenanya ia menulis kajian mendalam tentang topik-topik yang menjadi masalah dalam perusahaan-perusahaan client nya, sehingga yang membaca langsung mengetahui skill Abdul dan tertarik untuk mengajak ketemuan. Ia memang “mendesain” sedemikian rupa agar client mengetahui Abdul memang pakar dalam masalah tersebut setelah membaca artikel blognya. “Setelah ketemuan langsung saya kasih buku mas, jadi artikel blog buat nalar, buku buat emosi, semua orang suka oleh-oleh mas, saya ga akan biarin partner meeting saya pulang tangan kosong. Oleh-olehnya ya buku itu.” tambahnya.
  3. Promosikan artikel blog, jangan blog-nya, apalagi bukunya. Abdul menggunakan jasa buzzer di Twitter, dan meminta pertolongan akun-akun dengan follower besar untuk men-tweet artikel blog-nya. Namun yang di promosikan bukan blog nya secara keseluruhan, namun artikel. Abdul bilang ke saya “Jadi untuk blog-nya mas Fikry, Jangan fikryfatullah.com nya yang di tweet, tapi artikelnya, mulai aja dari yang paling populer dan mention akun besar di Twitter yang menurut mas Fikry akan tertarik membacanya.” Menurut Abdul, saat seseorang tertarik dengan artikel kita, Ia akan membaca artikel lain di blog tersebut. Dan jika kita beruntung, Ia akan membeli buku kita. Jadi jangan buru-buru promosikan bukunya didepan.
  4. Test dan ukur, setiap artikel populer. Abdul melakukan test dan ukur saat mempromosikan artikelnya. Dibagian bawah artikel, Ia selalu menjual jasanya dan meletakkan detail kontak agar pembaca bisa dengan mudah menghubunginya. Ia membedakan CTA atau Call To Action untuk 3 artikel populernya. Satu dengan nomor tlp untuk SMS/ Whatsapp, satu dengan PIN BBM, dan satu lagi dengan LINE. Dari situ ia mengetahui mana artikel yang mendatangkan banyak client. Jika undangan datang melalui SMS berarti artikel A, jika melalui BBM berarti artikel B, dst. Dari sana akan ketahuan artikel mana yang paling banyak mendatangkan client. Sekarang Abdul sedang belajar menggunakan email marketing untuk menangkap perhatian dan mengumpulkan pembacanya.
  5. 9 kali gagal, 10 kali mencoba. Tidak semua promosi diatas akan berhasil. Abdul sendiri mengakui banyaknya ia gagal dalam prosesnya. Namun Ia berkata kepada saya: “9 kali saya gagal promosi seperti diatas mas, ga ada client yang datang. Alhamdulillah yang ke-10 berhasil.” Dari 200an lebih artikel blognya, yang akhirnya mendatangkan client menurutnya juga hanya 3-5 artikel. Sisanya hanya menambah pengunjung saja.
  6. Tidak apa-apa kalau bukunya tidak laris. “Buku saya ga laris-laris amat mas, tapi yang penting diterbitkan sama penerbit yang cukup terkenal. Itu yang membuatnya jadi kredibel.” Saya setuju dengan pernyataan Jeff Goins, kalau mau kaya jangan “hanya” jadi penulis. Jangan berharap banyak dari penjualan buku, karena efek samping buku kita bisa dijual di toko buku besar akan banyak sekali. Kalaupun buku kita akhirnya jadi mega best seller yang terjual 50ribu copy, anggap saja itu sebagai bonus.
  7. Artikel blog dan buku hanyalah pintu masuk. Pada akhirnya, artikel blog dan buku tidak akan membangun bisnis, Andalah yang membangun bisnis. Abdul berkata kepada saya: “Liat pak Ary Ginanjar mas, dari banyak orang bilang beliau besar dari buku ESQ, padahal menurut saya pak Ary bisa jadi seperti sekarang karena beliau memang pebisnis handal, bukan “hanya” karena bukunya jadi best seller.” Agar kerjasama bisnis bisa terjadi, memang dibutuhkan lebih dari sekedar artikel blog, buku, ataupun personal brand yang bagus. Kemampuan presentasi, cara closing (menutup penjualan), follow-up, bahasa tubuh, dan kualitas layanan, pasti akan besar sekali pengaruhnya. Saya melihat Abdul memang lihai jualan, jadi menurut saya wajar kalau sudah ketemuan, tingkat closing nya akan tinggi.

Di akhir pembicaraan, Abdul meninggalkan pesan yang mendalam buat saya, Ia mengatakan:



“Saya bukan mau jadi blogger mas, kebanyakan blogger yang saya kenal cuma nge-blog aja, ga pernah blog nya jadi bisnis beneran. Disisi lain saya juga ga mau jadi spammer, temen-temen saya yang bisnis online banyak masuk golongan spammer ini. Ngiklan nyampah di Instagram-nya artis-artis.

Blogger banyak yang ga jualan, ga bisa saya salahin, jualan memang susah. Akhirnya mereka jadi yang saya sebut: “Friendzone Blogger.” Jadi pacar (jualan) engga, jadi temen (penulis) juga engga karena mereka butuh duit juga, mirip Friendzone kan mas? Dimintain anter sana sini mau, minta bunga di beliin. Tapi terus hidupnya merana karena ga jadi bisnis. Di sisi lain spammer jualan mulu, ngiklan tak terkendali, sehingga ga ada berbagi manfaat ke masyarakat. Saya online marketer aja mas, ditengah.” 

Katanya sambil senyum…

Semoga sukses terus dengan training-triningnya mas Abdul…

Catatan: Ingin tau 7 cara mendatangkan 100 client pertama Anda sebagai trainer? Daftar #WebinarBOM disini:

Klik disini untuk mendaftar #WebinarBOM

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 comments:

Posting Komentar